Rabu, 29 Oktober 2014

Jadi Mahasiswa Enak Ga Sih? #2BulanMaba

Halo kawan semua, aku mau ngasih tau ternyata menjadi  mahasiswa psikologi ternyata susah. Terbebaskan dari pikiranku yang awal sebelum masuk psikologi. Aku kira dengan masuk psikologi, aku nanti akan bebas menganalisis sebuah masalah kejiwaan atau karakter orang. Ternyata tidak seperti itu, semakin kita terjun, semakin pelik kita dengan berbagai teori. Gak boleh common senses.

Contoh nih ya, persoalan anak jalanan disorot oleh teori Kohlberg yang intinya terjadi proses internalisasi dalam pola moral Sang Anak. Yak soal Kohlberg ini, saya masih belum begitu paham.

Lama saya bergelut dengan mabaisasi , saya jarang mengisi blog. Pikiran masih belum terpetakan. Rencana menjadi mahasiswa seperti apa masih belum punya keputusan. Sungguh, ini tidak boleh diperlama atau didiamkan saja.

Namun saya bersyukur, benar yang kebanyakan orang bilang, kuliah psikologi nantinya akan menyenangkan karena kita belajar menganai realitas kejadian yang sudah pernah kita alami. Contoh, pada materi PSRK (Perkembangan Sepanjang Rentang Kehidupan) remaja seringkali mengalami personal fable—yakni perasaan unik dan tak terkalahkan pada diri remaja. Nah, aku pernah mengalaminya bahkan sampai sekarang.

Saya hadir di Semarang dengan latar belakang personal fable, saya ingin unik—tidak lagi di Malang (sebab SMA saya habiskan di MAN 3 Malang) dan tak terkalahkan—kuat naik turun mendaki bukit Tembalang (Semarang atas) sementara saya tinggal di Semarang bawah serta mondok.

Jujur, aku capek kalo naik turun Sigar Bencah, berangkat ngebut terus, sepulangnya harus ngaji, belum lagi kalo ikut kegiatan organisasi dan tak lupa bejibunnya tugas yang menambah rasa sesak dalam dada. Heheheh

Semua saya jalani, pesan bapak di rumah: “ Udah jalani ae, lek engko rodok angel..gapopo ya, kan sing di goleki ancen adohe.”

Every single step, I pray for my family and friends.Love me ya... Happy 2 Months, and I’m still single.
Jadi, awal maba aku ini sambil mondok yang jarak pondoknya itu sekitar 45 menit (normal) plus harus menaiki dan turun bukit. 

Kamis, 09 Oktober 2014

Semua Berubah

Saat ini semua berubah.
Aku sudah tak aktif lagi dengan kehidupan teman-teman MAN-ku, aku baru menyadarinya. Dulu kalau ada yang ultah, aku yang jadi organisatorisnya. Biasanya sama Safira, Biellda, Uyuun.
Dan sekarang jamannya maketin. Iya, aku sudah liat beberapa instagram temen-temen yang dapet paketan. Lucu emang. Aku seneng kalian bisa begitu soswit nya.

Allah, kuatkan hambaMu ini berjuang di kota yang sama sekali tak ada saudara. Kota yang penuh dengan tantangan. 
Everyone has their challenge, isnt rait?
Semangat buat Rosta. Kamu bisa menakhlukkannya.
Buat kalian Filos9th, aku sayang kalian. Semoga kalian ingat itu.

Selasa, 23 September 2014

Kenapa Ga Kuliah Unair Aja Sih?

Temen-temen Undip ku rata-rata nanya itu saat ospek kemarin.
Sebenarnya ini pertanyaan klasik. Bisa dikatakan klasik sekali. Substansi lainnya ga diukur. Kurang sekali untuk men-judge secara langsung.
Namun, saya melihat orang bertanya seperti itu tergolong ke beberapa zona. Saya rasa zona tersebut cukup saya simpan saja. Saya hanya akan menggunakan kacamata positif, eits bukan cembung karna rabun dekat loh. Hehe. Tuh keluar IPA-nya.

Yang harus diingat, seseorang memilih tempat kuliah tidak didasarkan jarak saja. Okay, jarak memang harus dpikirkan. Mengingat kantong orang tua yang harus diteliti. Memungkinkan tidak untuk melancong jauh dari pintu rumah. Dan pada dasarnya memilih bukanlah kegiatan yang mudah. Banyak kisah dibalik itu semua. Meskipun begitu, saya akui jika saya sangat spontan dengan keputusan kuliah saya di Undip ini. "Saya ingin kuliah di luar Jawa Timur", yak waktu itu.

Nggak ada yang perlu di konfirmasi lagi sebenarnya. Saya tipe yang takut bosan. Bapak saya juga sudah menasehati, "Orang tidak boleh bekerja berdasarkan tempat." Betul Sekali. Namun, sifat remaja yang melekat pada diri saya sangat kuat-- ingin eksplorasi tinggi.
Semoga barokah pencarian ilmu di Kota Besar Jawa Tengah ini, Aaamin. Kalian pun juga begitu, bees!

Sabtu, 30 Agustus 2014

H+2 Adaptasi Semarang

Alhamdulillah, bisa kerasan di PP ADDANURIYAH 2. Banyak yang bilang kalo aku mudah banget adaptasi. In fact, gak mudah. Susah. Cuman, aku tipe orang yang mudah menerima dan mentolerir. Dan aku suka `susah`. Tapi dengan harapan kedepan nggak susah.

Jangan memiliki mindset : Aku hidup di pondok susah kayak gini, biar nantinya siap hidup susah.

Sebenenrnya, susah bukanlah hal yang dicari. Bukanlah hal yang harus dilalui. Kalo ada yang mudah, kok milih yang susah. Kenapa harus mempersusah diri?

Tidur dulu.

Hari Kedua di pondok, Hari berduka cita..Eyang meninggalkan dunia...