Tampilkan postingan dengan label Curahan Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curahan Hati. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Juni 2018

Usia 21 Tahun Sudah Sarjana

Seperti biasa, setiap postingan diawali dengan 'Hai'.

Jadi kali ini akan bercerita tentang hari lahirku. Alhamdulillahirobbil 'alamiin. Bisa sehat wal'afiat pada usia 22 tahun.

Perjalanan menuju Juni ini perlu diapresiasi sendiri. Mungkin sekalian berdoa untuk diri sendiri ya.

Selamat ya Ros udah bertahan dan kuat menahan emosi. Semoga semakin dewasa dalam berpikir dan memiliki spiritualitas yang baik. Ingat Allah dimanapun. Ingat selalu untuk selalu punya niat yang baik karena Allah. Sayangi orang tua, beri waktu dan kasih sayangmu ros. Insya Allah, Allah bakal ngasih apa yang dibutuhkan. Apapun...Jangan khawatir.
Dan yang bikin bahagia bukan tanggal 12 Juni, tapi tanggal 6 Juni. Alhamdulillah sudah yudisium. Artinya, saat aku belum sah berusia 22 tahun, aku udah sah menyandang gelar S.Psi. Kenapa harus bangga? Hahaha. Karena mungkin pernah ngeliat di timeline IG, "alhamdulillah bisa selesai kuliah di usia 21 tahun". Lah kamu ros? Kan kamu 21 tahun mau jadi 22 tahun selisih 6 hari doang wkwk. Sudahlah ini tidak penting. Yang penting adalah sehat. Jadi inget masa-masa perjuangan, rasa cemas bercampur aduk kala itu.

Alhamdulillah diizinkan sidang pada tanggal 29 Maret, lalu revisi selama sebulan April penuh. Kemudian seharusnya bisa yudisium pada bulan Mei, tapi ternyata ndak buka yudisium. Kenapa? Karena yang daftar cuman 1 itu pun udah nggak minggu pertama, biasanya yudisium itu awal bulan, saat itu banyak persyaratan yudisium yang belum dipenuhi , salah satunya adalah jurnal. Untuk ACC membutuhkan waktu revisi dari dosen pembimbing.

Daftar sidang Maret sebenarnya berharap bisa ngejar wisuda Mei, tapi revisian musti beres di awal bulan April biar bisa yudisium dan bisa daftar wisuda Mei. Sementara bulan April adalah bulan akreditasi, kampusku sangat sibuk yang tak bisa digambarkan melalui kata-kata.

Ada lagi yang bikin bersyukur banget, berkat kerja keras civitas akademika, per wisuda Agustus besok kami mendapatkan kelulusan di ijazah dengan akreditasi A. Inilah yang menjadi hikmah kenapa aku baru wisuda bulan Agustus, ternyata biar dapat akreditasi baru. Heheh

Kalau diingat-ingat lagi, dulu kan sempat kuliah di Universitas Negeri Malang (UM) dengan jurusan psikologi juga, tapi masih akreditasi C. Kemudian selang 2 minggu setelah kuliah, dapat kabar kalau aku keterima Undip. Sebenarnya aku juga eman dengan UKT yang udah dibayarkan di UM, tapi ternyata UKT di Undip pun sama persis jumlahnya, jadi mikirku ngga rugi-rugi amat. Selain itu pertimbangan mengenai akreditasi, Psikologi Undip saat itu masih B per tahun 2013 kalau ndak salah. Kemudian aku memproyeksikan kalau Psikologi Undip 5 tahun lagi setelah itu kemungkinan bisa dapat A.

Sempat menargetkan lulus atau sidang di bulan Januari, tapi ternyata ada aja tantangan buat ngerjain skripsi, jadi belum selesai.

Beberapa bilang, "kok cepet sih lulusnya". Sebenarnya ingin menjawab gini, "ini aja udah molor dari yang aku targetkan yaitu Januari". Tapi ngga boleh jawab kayak gitu, semua ini datangnya dari Allah. Gitu jawabnya.

Aku pernah bilang ke teman kalau rencana lulusku memang Januari, kalau lebih dari itu berarti ada sesuatu. Kalau digambarkan mungkin gini, semester 6 aku udah ambil mata kuliah Seminar Proposal. Nggak cuman aku ya, semua angkatan 2014 memang diproyeksikan bisa lulus 3,5 tahun karena semester 7 udah nggak ada mata kuliah wajib yang harus diambil. Sebenarnya aku juga nggak ngebet 3,5 tahun banget sih, waktu itu mikirnya, masa ada kesempatan 3,5 tahun ngga diambil, gak boleh loh menyia-nyiakan kesempatan. Seperti Safira, anak ITS, dia mengatakan kalau dia susah banget buat lulus 3,5 tahun dan dia memutuskan untuk lulus 4 tahun. Well, apakah mungkin ini penyebab kenapa aku ngga bisa lulus 3,5 tahun karena nggak terlalu yakin buat bisa. Tapi ndak juga sih, aku udah ngerencanain bimbingan dan step-step agar lulus, tapi mungkin aku baru bener-bener semangat, berkonsentrasi dan fokus ngerjain skripsi itu bulan Desember. Kalau nggak salah selama bulan November aku berhenti karena masa-masa transisi habis dari Riau. Apaan sih nggak nyambung. Terimakasih buat Dira yang udah mau bareng-bareng dan akhirnya bisa lulus bareng.

Selasa, 05 Juni 2018

Tersedih di Dunia Selama Ramadhan, Tidak Ikut Khataman

Hari ini tanggal 5 Juni 2018.

Sedari kemarin sudah diingatkan Okta (koordinator FIM Semarang) buat hadir pagi-pagi banget di kantor PGN. Ada acara buka bersama dengan anak yatim se-Kota Semarang.

Malamnya, aku bingung menentukan agenda mana yang aku pilih.

1. Bukber FIM, dimana aku jadi panitia sebagai pendamping 3 yayasan panti asuhan.
2. Bukber Pilar PKBI, dimana aku jadi relawan.
3. Acara Training of Trainer Hypnosis bersama Pak Hans.

Pada akhirnya aku izin acara nomor 3. Dan memprioritaskan acara nomor 1, karena aku benar-benar dibutuhkan dimana personelnya sedikit sekali. Kemudian acara 2 tetap aku usahakan.

Pada kenyataannya, acara nomor 2 tak bisa kususul. Sedih. Karena momen bersama relawan itu bermanfaat banget menurutku.

Setelah itu, aku menyempatkan hingga selesai evaluasi acara pada pukul 21.00 dan sampai rumah jam 21.30. Jauh. Jalan pemuda ke daerah Tembalang. Uniknya, aku ngeboncengin adik kelas yang berangkatnya pakai helm.

Sampai di rumah, aku membersihkan wajahku yang kotor. Leyeh-leyeh. Dan kemudian cek stories instagram. Dan ngeliat stories salah satu temen kos sedang update tentang khataman adek-adek TPQ di masjid terdekat. Masjid yang biasanya jadi tempat langganan jama'ah para penghuni kosan.

Ngeliat stories itu membuatku mencetuskan "hari tersedih di dunia".

Khataman adalah event tahunan. Tahun lalu aku gabisa hadir karena KKN. Dan ternyata di tahun terakhir di Semarang malah aku ngga datang.

Dan alasannya sepele, karena aku nggak tau informasi kalau khatamannya hari ini. Aku kira besok alias Rabu. Kebetulan besok Rabu akan ada Sabyan, trus kemarin aku ngajak anak kos buat datang ke Sabyan. Dan anak kosnya jawab, "loh malamnya kan ada khataman". Jadi aku menyimpulkan khatamannya tuh hari rabu. 

Dan sekarang rasanya tuh sakit banget. Sakit karena mikir ini bisa jadi adalah Ramadhan terakhir di Semarang. Huhuhu

Aku pas tau update an stories temanku tadi langsung bergegas ke masjid. Eh ternyata rombongan teman kos sudah di depan kos. Padahal aku udah lari, bahkan sampai foto diatas lemari sampai jatuh ke lantai gara-gara aku buru-buru banget buat ngaca.
Foto ini diambil oleh salah satu penghuni kos/rumah. Foto ini sekaligus jadi  kenang-kenangan sebelum masjidnya selesai direnovasi. Tersedih di Dunia Selama Ramadhan.

"Loh kan udah aku ingatkan di grup line, aku udah mention kalian (aku & isqina)."

Setelah itu aku naik ke kamar nulis kejadian ini supaya plong.

Line-ku pun aku ubah statusnya jadi OFF dan tanpa foto. Aku ndak ingin lagi aktif line sebenarnya karena di handphone Line itu udah lemot pas nge-loadnya. Plus, nggak muncul notifnya. Iya, OPPO NEO 7 emang gitu. Inayah, temanku, punya hape sama denganku juga mengeluhkan hal ini.


Sekarang meneteslah air mataku. Yang perlu diterima adalah memang aku tidak ditakdirkan untuk datang Khataman. Alhamdulillah diselamatkan selama perjalanan pulang jadi panitia, walau temanku ndak pakai helm. Hehehe

Minggu, 03 Juni 2018

Ramadhan Tahun Ini


Assalamu'alaikum semua.

Hai Rosa yang mungkin akan baca tulisan ini di tahun depan.

Ramadhan kali ini diisi dengan kekosongan agenda pasti. Semua agenda yang ada adalah agenda yang tidak dipastikan. Ramadhan tahun lalu setiap hari Jumat, Sabtu & Minggu selalu berangkat KKN. Masih kuliah juga tahun lalu. Untuk jadwal masak di rumah (kos) sudah berjalan.

Namun, ada rasa yang berbeda untuk Ramadhan kali ini. Yaitu kefokusan dalam beramal pun sudah berubah. Sekarang kalau masak benar-benar dihayati supaya nanti sudah berumah tangga sudah tidak bingung lagi. Kemudian, saat beribadah juga diakhir sholat selalu menyempatkan do'a untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Iya, akhirat.

Jama'ah pun jauh lebih rajin daripada Ramadhan tahun lalu. Alhamdulillah. Mereka yang ada foto adalah orang-orang yang istiqomah jama'ah. Semoga Ujian mereka lancar semua. Aamiin. Gak nyangka Ramadhan kali ini mereka udah UAS aja. Artinya, sebentar lagi akan tiba semester ganjil. Mereka sibuk KKN di Bulan Agustus besok. Ada kalimat yang tercetus diantara kami, "Eh kita jangan terlalu dekat gini, nanti kalau kita udah pisah...pasti rasanya ada yang kurang."

"Kamu nggak sedihkah Ros, bulan depan kita udah pada KKN. Mungkin kebersamaan kita akan sangat jarang sekali."

Ya, time flies..kalian makin gede di Undip. Aku pun keluar Undip.

Dan pada Ramadhan ini aku melakukan 3 buah perjalanan,

Pertama, aku pergi ke Jogja sendirian. Sedih sih karena harus sendiri. Tapi, untungnya perjalanan ini emang perjalanan singkat. Hanya merasakan sahur dan buka sekali. Hal yang tidak menyangka adalah aku menginap di tempat Rory, lalu juga bertemu dengan Ibnu. Mereka berdua adalah anak B, beda kelas sama aku yang kelas E. Kok bisa ya aku deket sama orang yang dulu itu mungkin cuman senyum doang kalau di SMP 1 Kediri. Rory memang pernah melakukan perjalanan ke Semarang untuk kegiatan voluntering gitu. Aku udah mencoba menghubungi teman satu asrama di MAN 3 Malang dulu, eh nggak bales cobak. Yaudahlah, Rory menjadi penolongku.

Apa tujuanku ke Jogja? Mungkin aku akan kasih tau setelah ada kepastian saja.

Kedua, aku berkesempatan ikut kegiatan pesantren kilat cuman 3 hari di Jakarta. Bertempat di masjid nan megah di Jakarta Barat, yaitu KH. Hasyim Asy'ari. Alhamdulillah bisa beli tiket kereta. Dan bisa naik kereta favoritku yaitu Tawang Jaya, harganya sama seperti tahun-tahun lalu.

Ketiga, mudik. Aku sudah sangat kangen sekali dengan kemewahan dan keramahan rumah asliku. Sidoarjo! Sejak tahun baru 2018 belum sempat pulang ke rumah. Bukan karena sibuk. Selow malahan, tapi ya gitu ada aja agenda yang tidak pasti. Bimbingan lah....persiapan sidang lah.....pasca sidang musti revisi...daftar yudisium yang rumit...Wah alhamdulillah bisa tuntas menyelesaikan. Terakhir yang paling ditunggu-tunggu adalah yudisium. Berapa nilai skripsiku akan ketahuan. Ya Allah bantu aku supaya mampu menerima berapapun ketetapan-Mu ya Rabb.

Ohya Ramadhan kali ini dipenuhi pertanyaan Bukber, "Apa rencanamu setelah ini?"

Well, pertanyaan sensitif abad ini itu mah. Hahaha padahal jawabnya sederhana, "doanya ya..semoga bisa keterima S2". Dimana Ros? Doanya ya aku akan mendaftar di beberapa tempat. Tapi yang jelas, aku sangat berharap untuk bisa mendapatkan beasiswa.

Jadi Ramadhan kali ini disimpulkan, aku semakin menjadi sosok yang dewasa. Suatu kenikmatan yang besar. Hal sederhana adalah dalam mengontrol makanan yang masuk. Alhamdulillah sudah turun 4 kilo. Hehehe

Ohya tapi tetap ada tapinya, tidur setelah sahur. Wah ini gawat kalau terjadi pas zaman kuliah. Masa aku bangun dari sholat Shubuh jam 08.00, untuk belum punya pekerjaan pasti.

Target bulan-bulan ke depan, semoga bisa dapat tempat magang yang sesuai dengan aku buat ngisi waktu biar aku jadi orang bertanggung jawab.

Sekian cerita Ramadhan tahun ini.

Selasa, 03 Maret 2015

Kos Baru

Ya Allah, sampai pada titik aku menyerah dengan keadaan memondok.
Pondookku sangat jauh dengan kampus, sekitar 30 menitan untuk sampai.
Aku sedih kalau gaisa istiqomah seperti di pondok. Meskipun kadang merasa terpaksa..... tapi aku seneng. Banyak temennya.

Oh kos baru.
semoga aku setia disini saja

Selasa, 02 Desember 2014

Kehilangan Teman Sepermabaan

Halo maba, apa kabar maba?
Bagaimana tempat kos kalian? Nyaman? Sepi? Kangen situasi asrama ? Kangen jadwal sekolah yang pasti? Kangen lelucon teman SMA? Hehehe
Wahai maba dimana pun kalian berada, disini aku mau share tentang kemabaan ku sendiri.
Selama 3 bulan, menempuh jarak jauh, menaiki bukit, menuruni lembah,  menelusuri setiap jam kuliah, duduk mendengarkan dosen, mengacung tangan, berpendapat, menjawab dan bercanda dengan teman baru.
Kehidupan maba yang aku kira bakal menyenangkan seiring bertemunya teman baru dari berbagai daerah, ternyata tidak. Banyak cobaan menghadang. Satu per satu teman merotoli  alias keluar. Berbagai alasan mereka tersebut. Dan itupun kejadian pada teman yang cukup dekat dengan saya. Kurang apa saya dengannya... Eaaa

Namanya, Izmi. Lengkapnya, Novia Izmi Kasih. Asalnya, Makassar. Dia ternyata sengaja tinggal di Semarang hanya sekedar mencoba-coba. 3 bulan pun ia jadikan ambang batas tinggal di Semarang. Sedikit mengerti psikologi pun membuat dia senang. Tujuan awal dia adalah masuk sebagai mahasiswa arsitektur. Oke well, kalo masalah keinginan. Aku juga punya keinginan. Namun, waktu sudah mengubahnya menjadi lebih berwarna.

Yang mengetahui kepindahannya pertama kali adalah aku dan Amas. Kami adalah seperkongkolan anak Semarang Bawah yang butuh tumpangan kos. Hari itu, hari Selasa, dimana matkul yang cukup padat dari pagi 07.30 hingga 10.40 lalu lanjut lagi jam 12.30 sampe 15.30, setelah matkul pertama kami memutuskan untuk memakan bontotan dan belajar  di suatu kos. Hari itu Zehan ditelpon—dia adalah pemilik kos yang tidak jauh dari rusunawa,hmm intinya deket dari kampus gitu, dia lagi sakit maag di Temanggung—kota 2 jam-an dari semarang. Terus, kami memutuskan untuk menelepon Izmi, tanpa basa-basi kita datang.

Disana kami bertemu dengan nenek dan kakeknya. Dia bilang mau balik ke Makassar. Dan karena analisis yang saya miliki begitu kuat (ceilah). Saya langsung bertanya : Loh izmi.......kamu bakalan balik lagi kan?, sebab di awal pertemuan dia pernah bilang kalau dia di Semarang sebenarnya tidak diijinkan orang tuanya dan sekali dia balik maka tidak ada pengembalian lagi ke Semarang. Beberapa detik kemudian, dia menjawab : enggak lagi ros.

Aku shock. Oh teman, kehilangan teman rasanya gak enak. Ngerasain ini, seperti merasakan rasa kecut yang melebih kecutnya mangga yang belum matang.
Tapi dari sini aku punya persepsi, wahai kalian anak rantau yang masih sabar dengan kehidupan baru....kalian hebat. Apalagi kalian yang  bukan dari Jawa. Keep calm and strong with this damn dintance. Niat mencari ilmu karna Allah ta’ala.

(FOTO)
Izmi itu yang pake kerudung merah, aku di tengah, sebelahnya lagi itu Tiwi (Ternate).
 Selfie pake Ipad kecenya Indah Ayu.

Rabu, 29 Oktober 2014

Jadi Mahasiswa Enak Ga Sih? #2BulanMaba

Halo kawan semua, aku mau ngasih tau ternyata menjadi  mahasiswa psikologi ternyata susah. Terbebaskan dari pikiranku yang awal sebelum masuk psikologi. Aku kira dengan masuk psikologi, aku nanti akan bebas menganalisis sebuah masalah kejiwaan atau karakter orang. Ternyata tidak seperti itu, semakin kita terjun, semakin pelik kita dengan berbagai teori. Gak boleh common senses.

Contoh nih ya, persoalan anak jalanan disorot oleh teori Kohlberg yang intinya terjadi proses internalisasi dalam pola moral Sang Anak. Yak soal Kohlberg ini, saya masih belum begitu paham.

Lama saya bergelut dengan mabaisasi , saya jarang mengisi blog. Pikiran masih belum terpetakan. Rencana menjadi mahasiswa seperti apa masih belum punya keputusan. Sungguh, ini tidak boleh diperlama atau didiamkan saja.

Namun saya bersyukur, benar yang kebanyakan orang bilang, kuliah psikologi nantinya akan menyenangkan karena kita belajar menganai realitas kejadian yang sudah pernah kita alami. Contoh, pada materi PSRK (Perkembangan Sepanjang Rentang Kehidupan) remaja seringkali mengalami personal fable—yakni perasaan unik dan tak terkalahkan pada diri remaja. Nah, aku pernah mengalaminya bahkan sampai sekarang.

Saya hadir di Semarang dengan latar belakang personal fable, saya ingin unik—tidak lagi di Malang (sebab SMA saya habiskan di MAN 3 Malang) dan tak terkalahkan—kuat naik turun mendaki bukit Tembalang (Semarang atas) sementara saya tinggal di Semarang bawah serta mondok.

Jujur, aku capek kalo naik turun Sigar Bencah, berangkat ngebut terus, sepulangnya harus ngaji, belum lagi kalo ikut kegiatan organisasi dan tak lupa bejibunnya tugas yang menambah rasa sesak dalam dada. Heheheh

Semua saya jalani, pesan bapak di rumah: “ Udah jalani ae, lek engko rodok angel..gapopo ya, kan sing di goleki ancen adohe.”

Every single step, I pray for my family and friends.Love me ya... Happy 2 Months, and I’m still single.
Jadi, awal maba aku ini sambil mondok yang jarak pondoknya itu sekitar 45 menit (normal) plus harus menaiki dan turun bukit. 

Selasa, 23 September 2014

Kenapa Ga Kuliah Unair Aja Sih?

Temen-temen Undip ku rata-rata nanya itu saat ospek kemarin.
Sebenarnya ini pertanyaan klasik. Bisa dikatakan klasik sekali. Substansi lainnya ga diukur. Kurang sekali untuk men-judge secara langsung.
Namun, saya melihat orang bertanya seperti itu tergolong ke beberapa zona. Saya rasa zona tersebut cukup saya simpan saja. Saya hanya akan menggunakan kacamata positif, eits bukan cembung karna rabun dekat loh. Hehe. Tuh keluar IPA-nya.

Yang harus diingat, seseorang memilih tempat kuliah tidak didasarkan jarak saja. Okay, jarak memang harus dpikirkan. Mengingat kantong orang tua yang harus diteliti. Memungkinkan tidak untuk melancong jauh dari pintu rumah. Dan pada dasarnya memilih bukanlah kegiatan yang mudah. Banyak kisah dibalik itu semua. Meskipun begitu, saya akui jika saya sangat spontan dengan keputusan kuliah saya di Undip ini. "Saya ingin kuliah di luar Jawa Timur", yak waktu itu.

Nggak ada yang perlu di konfirmasi lagi sebenarnya. Saya tipe yang takut bosan. Bapak saya juga sudah menasehati, "Orang tidak boleh bekerja berdasarkan tempat." Betul Sekali. Namun, sifat remaja yang melekat pada diri saya sangat kuat-- ingin eksplorasi tinggi.
Semoga barokah pencarian ilmu di Kota Besar Jawa Tengah ini, Aaamin. Kalian pun juga begitu, bees!

Sabtu, 30 Agustus 2014

H+2 Adaptasi Semarang

Alhamdulillah, bisa kerasan di PP ADDANURIYAH 2. Banyak yang bilang kalo aku mudah banget adaptasi. In fact, gak mudah. Susah. Cuman, aku tipe orang yang mudah menerima dan mentolerir. Dan aku suka `susah`. Tapi dengan harapan kedepan nggak susah.

Jangan memiliki mindset : Aku hidup di pondok susah kayak gini, biar nantinya siap hidup susah.

Sebenenrnya, susah bukanlah hal yang dicari. Bukanlah hal yang harus dilalui. Kalo ada yang mudah, kok milih yang susah. Kenapa harus mempersusah diri?

Tidur dulu.

Hari Kedua di pondok, Hari berduka cita..Eyang meninggalkan dunia...

Jumat, 08 November 2013

Sudah 2 Malam dan Kenapa Jadi Cerita 209

Gilak, sudah 2 malam aku selalu tidur habis isya'. Kemarin malam dan kemarinnya lagi. Ini masalah besar buat anak kelas 12. Dimana hasrat belajar nol besar. Gak punya roh dan tujuan yang pasti. Selalu mengutamakan ngantuk dan selimut. Semoga itu malam terakhir saya menikmati kebodohan. Saya harus pintar. Saya harus belajar untuk mengejar ketertinggalan.

Saya salut dengan Syerly, dia sangat rajin.
Saya salut dengan Biellda, dia mengerti keadaan.
Saya salut dengan Maqdisi, dia bijak & dewasa.
Wkwk, mereka kamar depan.
Saya juga salut dengan kakak-kakak Makbi yang mendiami 210.

Sayang 209???????
Ini pertanyaan berat. Berat banget. Soalnya anak-anak yang mendiami 209 bukan anak-anak yang ringan, rata-rata berbobot 80 kiloan. Ahahahahahaha peace.

Saya salut dengan Fabella, orang pertama yang selalu and always serta gak pernah ketinggalan sama yang namanya "antri mandi". Saya pernah mendapatinya di jungle-nya, kasur-nya yang mirip utan--bohong, dia ngebet pengen lulus supaya bisa kembali bersama dengan wajah-wajah keluarganya, yeah prinsipnya family is everything. 
" Subhanallah, i've just realize that my room kept a beautiful artist wannabe "

Saya salut dengan Yulia, dari segi peminjaman charger laptop...beh dia buaek. Dia anak Borneo yang masih kuat dengan suku Jawa yang aneh-aneh, aksel, eits tapi ada Cilin-ade yang dari Madureeh. Yulia dari #amazing211 loh. Makanya saya udah hapal banget sama gerak-geriknya.

Saya salut dengan Fahlya, pemberontak G30SPKI yang masih hidup. Dia bocah yang gak kenal lelah. Mau diajak movie marathon, ayok aja. Mau diajak belajar ngerjain pr, hmm ayok. Mau diajak tidur, dia jarang nolak wes. Kerennya dia ahli perlistrikan juga loh. Dia berhasil mendapat nobel, penyediaan lampu belajar manually.  Yah, nyolder lah, ngobeng lah..

Saya salut dengan Safira, cewek olimpiade yang ngua-nguatin hidup sama anak-anak yang ga olimpiade sama sekali. Wkwk. Otaknya encer, seencer------*sensor* ( seencer bumbu pecel ibu dapur ma'had ). Dia juga paling getol di bidang percucian baju. Paling wangi bajunya, semerbak bunga harum setaman raya. Kadang banyak ngomong, kadang diem aja...tidur zzz. Pinkerz nya, gak dinyana deh.

Saya salut dengan Uyuun. Miss kecantikan seantero man3. Mau nanya apapun tentang mar'atus sholihah, nah nih bocah dutanya. Yang ngasih jabatan, ya anak-anak geje @FILOS9th. Dia kalo udah pusing, ga ada bedanya sama anak yang gak makan satu bulan. Ini alay. Kasihan maksud saya.

Saya salut dengan Alya, Miss Higiene. Dia tergolong ABM (anak baru ma'had). Hatinya masih berbinar-binar melihat kami selaku pejuang tanpa jasa, ustadz selaku PPPP (penyuci pemikiran pejuang), tutor-ing, tandhif-ing, satir-ing, iqob-ing lah.... Gerakan 1000 foto menggantung di kasurnya sedang mengetuk anggota kamar lainnya. Anak desainer banget. Paling ngakak pas cerita all abotz Etalase Arumba, akun ibunya yang full of marketing and stalking daughter. 

Terakhir, yang paling spesial, saya salut dengan Ilaaafee, ketua kamar 209, paling sayang sama laptopnya, sandang pangan papan dia ya laptop. Jadi kalo semacam ga pake baju, alay ah Rosta. Dia paling keren saat jadi model potoh. Dia orang yang bangun paling awal buat mandi pagi. Dia ini suka semua tentang Korea. Saya paling seneng pas dibawain sambel + pocari sweat + kokakola + jajan-jajan, betapa dermawatinya deh...... :) Dia juga pencetus kata-kata " B e d m a t e ". Give applous!

Saya salut dengan saya sendiri. Walau sering bikin kesalahan yang idiot  tapi tetep semangat buat nulis semua cerita 209. Yang belum kecantum lebar, tunggu ya. Masih sibuk ulangan matematika bab Integral nih.
Salam Bee Jaya ! 

Rabu, 06 November 2013

Piano Pupus ?

Sudah sejak lama aku pengen bisa maen piano. Dan sampe sekarang masih buta not angka-not balok, buta tuts, butaaa >.< 
Pas SMP pengen les, eh gak dibolehin, disuruh fokus sama les matematika. Pas SMA kayak gini, rasanya hope for it nya lenyap. Udah tua. Pesimis buat bisa muncul. Besok pas kuliah? 
Ungkapan hati. 
Piano Pupus?