Tampilkan postingan dengan label Poems. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poems. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Maret 2015

Puisi Maret: Lama Diri

Lama diri tak menulis kisah
Lama diri diam baku
Lama diri kohesi dalam penat
Lama diri tak bakar
Lama diri jurang sepi
Lama diri menepis jauh
Terbata dan tak semangat
Layak histeria yang hanya dilihat seperti, namun tidak
Mengacungkan diri dalam acuhan
Diri bagai bongkahan es
Meleleh dan berubah nama
Kuselesaikan saja lama diri ini
Kubasmi semua dengan akuan ku
Ku kan terjang semua derita

Ku anggap olahraga meski tangis
Lama Diri
by; Rada Gusti

Senin, 28 Juli 2014

Tentang Kita dan Waktu

Mungkin kau bertanya kenapa mereka bisa sukses seperti itu
Mungkin kau bertanya kenapa mereka bisa mendapat yang masih bagus
Mungkin kau bertanya kenapa mereka masih saja diatas
Mungkin kau bertanya kenapa dengan diri KITA

Maaf, aku tak jua bisa menjawab. Aku baru saja melangkah di tangga pertama. Jika kamu yang sudah mencapai tangga kedua dan masih belum bisa menjawab secara pasti, apalagi aku.
Mungkin, jika bertanya pada Om Mario, beliau akan menjawab "Ini hanya masalah waktu".

*(ditulis setelah telepon tengah malam, Hari Ied 1435H)


Foto di depan kuburan Ngadisimo, Masa Alhuda (facebook.rizqilaila)

Sabtu, 23 November 2013

Demi Martabat Indonesia : Sebuah Puisi Juara 2 Malang Post

Demi Martabat Indonesia

Buah karya : Rosta Rosalina 

Sebelas bulan purnama telah menguap
Sebelas ksatria telah mengudara
Kala satu selalu diharapkan
Kala deru desah lelah dikesampingkan
Demi Indonesia,
Asa menjadi muara pondasi
Pondasi yang diraih berkucur-kucur
Demi Indonesia,
Memang, kebungkaman orde lama, lama usai
Licik orde baru sudah jadi serpih abu
Sedang reformasi masih membajak!
Menggelarkan nafsu pahlawan  baja
Demi Indonesia,
Menerpa kehausan triliun
Cekcok politik dijunjung tinggi
Prestasi anak bangsa di nomor seribu
Indonesia harus bersih!
Indonesia harus menjadi bangsa bermartabat!
Demi Indonesia,
Monopoli berpihak dilumpuhkan paksa
Paksa dengan pondasi kerja
Demi Indonesia bangun,
Prasangka diganti komunikasi
 Benih kebencian diganti
Demi martabat Indonesia







Rabu, 06 November 2013

Puisinya Si Ipul

Golongan Lolos ke Bromo. Ipul (left) & Toyib (right). Fotonya bikin ketawa?

Terbangun dalam senyapnya kesunyian
Ditingkah suara jangkrik bersahut-sahutan
Aku menatap ke arah Tuhan dengan kekhusyukan
Pendar sinar bertebaran bagai debu di sahara
Menerangi kegelapan hatiku yang tenggelam

Ku berjalan dalam lorong hitam
Dingin, Gelap, aku butuh kehangatan cinta
Aku terus menyusuri jalan menuju surga
Lukisan indah menantiku di sana

Kusendiri diantara bisikan setan
Gelap, Segelap hati para pemimpin bangsa diluar sana
Sunyi, di manakah lukisan yang dimaksud orang tak berdosa
Ku tunggu, hingga akhir menjemput

Malaikat datang perlahan
Ku lihat taman surga menari-nari
Oh, indahnya lukisan Tuhan
Gradasi warna yang terjamahkan
Wahai matahari terbit di puncak gunung Bromo


Perasaan yang Tersimpan
Ini semua dimulai ketika kita bertemu
Tak kusangka, aku menatapmu hingga lupa dengan diriku
Kini aku merasa, bahwa di dunia ini hanya ada kamu
Entah kenapa tidak terlintas orang lain di benakku

Waktu tetap terus berlalu
Namun, kamu masih tetap dibenakku
Binar senyummu yang dulu, tetap melekat dalam diriku
Pesona wajahmu buatku tak berkutik dihadapanmu


[Puisi ini dibaca pada hari 24 Oktober 2013, bersama FILOS9th & Ibu Ruly]