Minggu, 15 April 2018

Menikah di 2019

Hai, jadi ini bukan ngomongin tentang ketidak pastian yang berujung pertanyaan : emangnya kamu udah tau pasanganmu. Justru, ini lebih ngomongin konsep dan pandanganku tentang menikah. Menulis ini juga menjadi reminder buat aku supaya nikah kalau bisa menikah di usia 23-24 tahun, artinya musti nyiapin payung sedini mungkin.

Menulis ini dengan sedikit kesadaran karena sudah seharusnya berbaring di atas kasur. Kemarin tertarik untuk menulis cerita ini mulanya kepikiran dari pemilik rumah akan menikah di tahun depan. Lalu membuatku berpikir, bagaimana jika aku menikah di tahun 2019?



Menurutku tahun itu akan menjadi tahun mempertaruhkan path setelah lulus. Tapi kalau udah ada jodoh yang baik bukannya tidak baik menolak ya. Tapi jujur aku sudah mendapat cerita dari temanku. Dulu aku berharap bisa diberi orang yang jujur menyatakannya ke orang tua. Tapi ternyata setelah mendengar cerita temanku, aku malah bersyukur belum ada orang yang jujur bilang ke orang tua. Momen sakral semacam itu ternyata bikin freeze-stress temanku. Masa-masa kuliahnya tersita untuk memikirkan sosok laki-laki yang kurang jelas. Dia disukai oleh laki-laki yang tidak dikenalnya lama dan terpaut usia yang sangat jauh yaitu 10 tahun. Ternyata ada cerita yang tak beres juga sebelumnya.

Aku juga pernah mendapatkan cerita dari katingku yang akan menikah lalu ternyata tidak jadi karena calon pasangannya memutuskannya via WA di H-beberapa minggu.

Ya, makanya banyak doa. (Ibu)

Rencana mau mengambil S2 emang udah diwanti-wanti oleh Ibuku. Karena Ibuku tak ingin seperti nasibnya yang harus berhenti kuliah karena menikah. Untuk waktunya memang harus diusahakan setelah lulus kuliah. Kenapa? Karena kalau udah tau uang alias kerja biasanya nggak mau kuliah gitu.

Sebenarnya sudah ditanya oleh Mas-ku apa plan ku setelah lulus.
  • Dek, kamu habis ini mau lanjut kuliah atau nikah langsung?
  • Emang kalau aku nikah boleh ngedahului mas?
  • Boleh banget. Kamu duluan aja gapapa.

Sontak aku diam. Karena menurutku aku masih belum siap untuk menikah. Ya walaupun kuliah juga gitu. Kuliah masih harus nyiapin TOEFL/IELTS Score yang masih kurang. Sementara nikah, persiapannya jauh lebih banyak seperti memilih pasangan, pendekatan, memahami kekurangan antar pasangan, membangun visi & misi keluarga, ekonomi, rencana ke depan (tempat tinggal, pekerjaan, studi, anak, keluarga besar).

Tapi nyatanya banyak juga orang-orang yang bisa menikah dengan persiapan sedikit dan di usia yang lebih mudah daripada aku. Banyak teman-teman pondok semasa di Kediri yang sudah menikah setelah SMA.

Pilihan untuk menikah setelah SMA memang bukan pilihan yang mudah, tapi sebenarnya hanya satu kuncinya menikah yaitu 'mau belajar'.

Ada seorang kakak tingkat (kating) yang menikah saat sedang sibuk-sibuknya kuliah lalu menelan pil LDR. Dimana Sang lelaki harus melanjutkan studi S2-nya di negeri lain, sementara ia juga masih harus menyelesaikan tuntutan hidup di kampusnya.

Meski, kuliah dan menikah itu berbeda orientasinya tapi sebenarnya sama tujuannya. Tujuannya supaya mampu menjadi generasi yang sholeh-sholehah.

Mbak Nana, Najwa Shihab, pun menikah di usia 20 tahun. Aku pada usia segitu, pikiranku hanya mengatur organisasi saja.

Ada rasa kepercayaan yang harus dilekatkan saat menikah nanti. Percaya kalau pasangan kita juga mau belajar. Salah terkadang tak masalah. Menikah juga belajar tentang toleransi. Kita jelas berbeda sudut pandang penyelesaian masalahnya. Aku dipengaruhi keluarga dan pengalamanku. Kemudian, pasangan juga pun begitu. Menikah itu seperti mempertemukan hasil pola asuh dari kedua orang tua, kemudian menjadi satu formula ketika sudah memiliki anak nanti.

Menulis ini bisa menjadi reminder kelak aku sudah menikah nanti.

Lalu pertanyaan orang-orang yang membaca ini, wah kayaknya buru-buru nikah nih.

Nggak banget.

Enak single ga sih? Plus minus ding.

Enaknya bisa punya orang yang diajak diskusi dan ngertiin masalah kita bener-bener, kemana-mana bisa ditemenin, punya permanent support system, malam mingguan sudah nggak sendirian atau cuman di kosan aja. Eits, tapi dibalik enak juga ada nggak enaknya yaitu jadi kepikiran tanggung jawab mengatur rumah dan harus memperhatikan dari atas sampai bawah pasangan kita. Apalagi mengurus keluarga pasangan kalau misal terjadi apa-apa. Tapi sebenarnya konsepnya sama yaitu, mau belajar. 

Jadi single pun belajar, belajar sabar, ketika yang lain punya gandengan kita cuman ngelihat truk gandeng.

Banyak tuh sinetron yang hubungan dengan mertuanya gak baik-baik aja. Mertua pengennya masakin anaknya begini, sementara kita masakinnya begitu. Lalu terjadi debat. Nah, mungkin nanti perlu sabar belajar masak dengan mertua.

Begitu pun juga tentang tempat tinggal. Ada banyak orang tua di dunia ini yang memikirkan kebaikan untuk masa depannya dengan menyuruh anak untuk tinggal dekat dengan rumahnya. Iya sih kalau emang mereka akan memahami satu sama lain. Tapi kalau enggak......wah gawat juga tuh. Tapi

Apalagi kejadian tinggal di rumah orang tua. Sepertinya membuatku dan pasangan menjadi tidak bebas. Well, kalau pun nanti aku tinggal sama salah satu keluarga.....pasti akan tersita pikiranku untuk menyesuaikan satu sama lain. Masih belum tau juga sih. Kuncinya satu, mau belajar.


Nah, sekarang berlanjut ngomongin tentang wedding party. Pengen yang sederhana aja. Nyewa gedung kalau bisa, biar nggak mengganggu lalu lintas hehehe. Nggak semua aku kasih undangan yang harus hadir banget gitu. Karena belajar dari ibuku yang bilang, 'kalau kita ngundang orang yang jauh hingga membuat mereka ngga bisa datang..itu bisa bikin mereka sedih. Ya cukup bikin tulisan, "mohon doa restu".

Anyway, aku terinspirasi saat nikah nanti membagikan buku seperti Mas Gun & Mbak Apik. Tapi itu kan cerita tentang menjaga cinta antara keduanya ya. Aku mau cerita dalam buku itu adalah cerita kehidupan sehari-hari sebagai siswa/mahasiswa pada umumnya, yang isinya lucu-lucu aja. Bukunya online juga gapapa. Heheh karena aku lucu. 


Aku gak paham lagi kenapa aku lagi ada masalah malah aku punya ide menulis seperti ini. Ini bukan khayalan kan? 2019 itu sebentar lagi. 2020 pun juga sebentar lagi. Artinya, mulai dari sekarang semua hal harus disiapin. Terutama menyiapkan edukasi, psikis dan ekonomi. Satu lagi, doa yang tak terputus.

Kenapa Posting di Instagram?

Yang kutulis di bait caption selama ini semata-mata untuk menjadi pengingat. Pengingat ketika mungkin aku merasa kurang. Menulis itu seperti rasa bersyukur atas ide yang muncul.

"Tulisan 'Bagaimana jika tidak ada waktu' itu tiba-tiba muncul. Dan sekarang malah membuatku sering menulis 'Bagaimana jika'. Ini cukup membuatku lucu. Terakhir, aku ingin menulis 'Bagaimana jika di dunia ini tidak ada 'Wkwk' atau 'hehe' atau 'ckck'. Entah ini akan terealisasi atau tidak, karena receh sekali."

Kemudian, juga bisa menjadi bahan untuk menulis lagi.

"Wah aku pernah nulis ini, mungkin bisa kutambahin dengan tulisan lamaku". 

Lalu juga bisa menjadi bahan menjawab pertanyaan atau wawancara.

"Kejadian terakhir apa yang paling berkesan?". Aku bisa tinggal buka instagram. 
Dan sekarang aku juga aktif menulis di blogspot ini. Harapannya sih begitu, menjadi pengingat bahwa aku pernah bla-bla, pengingat kala aku lupa atas nikmat yang telah diberikan.

Kenapa tidak disimpan sendiri aja? 


Ya, siapatau tulisan kita bisa membantu orang lain. 'Siapa tau' itu artinya tidak berharap. Beberapa kali aku mengalami kejadian  mudah tersentuh dengan tulisan caption orang lain yang cocok dengan keadaan hati. Aku pernah menulis konsep 'diizinkan Allah untuk menikmati' di tumblr-ku yang lama, bahwa :

 "Sebagus atau sejelek apapun karya kita yang dibagi, tergantung Allah memberikan takdir untuk tersentuh atau tak berdampak sama sekali atas karya kita".

Intinya, apa salahnya berbagi. Nothing to loose.

Tapi aku juga sadar bahwa risiko menulis di media sosial itu menyimpan tanggung jawab sosial. Iya kalau yang ngelihat seneng atau biasa aja, tapi kalau merasa tersakiti atau malah jadi iri. Sebenarnya itu bukan ranahku. Sebagai creator, cielah creator, hanya memiliki tugas : berkarya dengan tetap santun. Entah nanti pembaca menilai negatif, atau mungkin nanti bisa menjadi evaluasi untuk kedepannya.

Tulisan ini muncul supaya aku tenang menulis, tanpa berpikir terlalu panjang dan berujung penundaan.

Gadget & Berterimakasih pada Kehidupan

Anak kecil selalu ada saja memiliki imajinasi.
Tak hanya mereka, aku yang usia 20-an juga menyimpannya.

Bagaimana jika di dunia ini tidak gadget?


Akibat kecanggihan teknologi, banyak hal yang berubah dan berisiko.

Secara positif, mungkin jika tidak ada gadget  maka juga tidak alat yang bisa mengelabui lawan bicara saat suasana awkward. Ini terjadi ketika suasana tidak cair, atau sedang menjadi obat nyamuk, atau ketika sedang menunggu. Gadget bak penyelamat dari kegabutan, seolah-olah ada banyak urusan di gadget, padahal sebenarnya hanya scrol sana-sini. Oke ini hanya sebagian orang mungkin yang merasakan. Selain itu, gadget membuat manusia merasakan manfaat derasnya informasi dan pengetahuan. Kita juga menjadi lebih mudah untuk menghubungi siapapun & kapanpun. Wajib bersyukur kita lahir di zaman dengan gadget.

Tapi..........

Sedihnya, adanya gadget justru dapat membuat semua orang sulit untuk benar-benar menghayati waktu bertemu. Adanya gadget membuat manusia lebih memilih seru dengan dunia maya atau digital. Banyak keseruan yang didapat ketika menjajal aplikasi demi aplikasi. Keseruan inilah yang membuat manusia terus tertarik dan menarik kecanduan. Serasa hidup dinamis mencoba klik satu per satu aplikasi, sementara sebuah 'pertemuan'pun menjadi  kurang bermakna. Interaksi sesama pun menjadi minim. "Mendekatkan yang jauh, tapi sedihnya menjauhkan yang dekat."

Sadar atau tidak sadar, adanya gadget membuat kita menjadi generasi 'kurang'. Generasi yang sering merasa kurang. Entah, itu redaksinya sebaiknya 'kita' atau hanya 'aku' saja. Contohnya saja, ketika aku yang menghubungi via Line  lalu tidak segera dibalas, sering muncul perasaan kesal. Apalagi jika mengirim pesan via Whatsapp, sekali sudah mengecek tetapi belum sempat membalas, timbul kekesalan "Ih kok cuman di-read doang, emang koran." Ini merasa kurang diperhatikan sih. Tapi aku ndak pernah merasa kesal, yang ada malah aku yang dikesalin. Hehe.

Parahnya, gadget malah menjadi tempat meneriaki kekurangan diri. Ketika pencapaian orang diposting  justru memunculkan perasaan ciut : "Wah dia udah kerja, aku kok masih gini-gini aja", "Ya Allah udah nikah aja dia, aku kok kayaknya masih lama ya.", "Sering banget sih keluar negerinya. Aku juga pengen."

Masih ada lagi sebenarnya dampak negatif gadget, menjamurnya hoax & hate speech membuat banyak orang serentak beristighfar. Kenapa komentar negatif dikirim hanya untuk menjatuhkan. Untuk apa menjatuhkan orang?

Jika kejadian yang terjadi senegatif itu, apa yang harus dilakukan?

- Berterimakasih kepada kehidupan.
Alam semesta membantu kita banyak dalam mendapatkan ketenangan hidup. Ketika kita ingin membersihkan tubung dengan mandi, air kran pun bisa mengalir deras. Bahkan tak jarang alam semesta menunjukkan keindahan-keindahan yang uniknya tak bisa dengan mudah diabadikan oleh alat elektronik canggih, misalnya gerhana matahari total.

Alam semestea memanggil mimpi-mimpi kita menjadi kenyataan.
Kecanggihan gadget hanyalah seperti remahan biskuit dibandingkan alam semesta yang memberikan segalanya. Kebersyukuran muncul dengan kita sadar ada yang lebih dari apa yang ada di gadget. 

Informasi yang ada di gadget perlu ditimbang. Tak semuanya harus dipikir.
Postingan maupun caption di gadget dapat digeneralisir sebagai hal yang positif dalam rangka langkah berterimakasih kepada kehidupan.

- Merawat Integritas.
Adanya gadget atau tidak, harusnya tidak lalu meruntuhkan integritas. Manusia perlu sadar bahwa teknologi ada bukan untuk memunculkan kekesalan pada orang lain melalui ketidakjujuran, tapi justru untuk membantu meringankan pekerjaan.

Contoh kecil, banyak orang memanfaatkan gadget untuk beralasan dengan mengirim stiker OTW (On The Way)  tapi sebenarnya masih sedang siap-siap, dan ini berakibat pada teman-teman lain sedang menunggu jadi membuang waktu.

Manfaat jujur yang lain, dapat membuat kita tak terbebani dengan penjelasan-penjelasan yang menuntut. Misalnya, di media sosial kita memposting acara yang kita ikuti tapi sebenarnya kita tak mendalami acara itu. Lalu ada teman yang bertanya dengan pertanyaan yang mendalam tentang acara itu, akibatnya tak bisa menjawab. Stuck. Dan yah, ketika ditanya begitu jujur saja. Tak perlu menutupi, karena jujur membuat kita berhenti berbohong. Sementara ketika sekali berbohong dapat memunculkan jawaban bohong berkali-kali.

Satu lagi, sesama manusia harusnya saling membangun dan menegakkan bukan? Hate speech maupun hoaks dapat hilang ketika semua orang di dunia sadar bahwa integritas dibangun agar sama-sama enak. Kenapa harus menjalin hubungan parasitisme jika dengan mutualisme membuat hati damai kedua pihak?

- Sadar kini & saat ini.
Apa yang ada di gadget kebanyakan adalah fiksi. Dan sebenarnya, manusia sadar jika kehidupan nyata lah yang dapat menawarkan banyak esensi kehidupan. Sebelum momen 'kini & saat ini' berganti, menikmati waktu cemas penuh harap diperlukan. Supaya tetap sadar bahwa apa yang paling penting terjadi bukanlah tentang 'nanti/masa depan/masa lalu' tapi justru 'detik saat ini'.


Tulisan ini sebagai pengingat kalau aku lupa berterimakasih pada kehidupan. Baik ada gadget atau tidak, hidup kita bahagia karena kita menyadari 'kini & saat ini'.

Ditulis setelah membaca blog seseorang yang menginspirasiku.

Rabu, 04 April 2018

Sedikit Pesan

Hai, apa kabar?
Bagaimana kesehatanmu, apakah sehat?
Kalau aku sedih karena ada jerawat
Bagaimana kamarmu, apakah rapi-rapi saja?
Kaget ya, karena biasanya kalau sibuk kamarnya jadi ga rapi hahaha
Bagaimana ruas-ruas jarimu, apakah baik-baik saja?
Kalau ini, kamu harus jawab dengan tertawa karna receh
Bagaimana pikiranmu, apakah ada beban?
Aku ada sedikit pesan untuk kamu yang sedang berjuang disana

Ada ruang yang tak bisa kita sentuh
Kita bisa mengusahakan apapun yang kita butuh
Tapi satu jangan lupa, ada ruang yang tak bisa kita sentuh
Ada kekuatan hanya berasal dari kuasa
Kita bisa kuat menghadapi tantangan kapanpun masa
Tapi satu jangan lupa,ada kekuatan hanya berasal dari kuasa

Bagaimana jika manusia lupa akan ruang dan kekuatan tadi?

Aku pernah lupa, lalu kubuka catatan ini
Lihatlah permasalahan dari permukaan
Orang-orang yang terlatih, tak akan tertatih
Jangan henti berupaya meski lelah diantara kelana ilmu
Pertahankan etik setiap detik
Pinta segala keluhmu dengan takutmu