Senin, 28 Mei 2018

Sempat Menghilang Tidak Pernah Bikin Stories, Ini Alasannya

Setelah beberapa waktu lalu pernah posting Kenapa Posting di Instagram, sekarang aku memunculkan teori yang melawan postingan itu.

Jadi ceritanya dua minggu ini sedang ada masalah. Terus ketika lihat postinganku, kok aku banyak banget waktu bersenang-senangnya ya, dan kenapa aku menunjukkan kesenangan-kesenangan pribadiku, ada loh orang-orang yang sedih dan mungkin nggak terima dengan hidupnya setelah melihat posting instagramku, dan itu aku rasain sendiri...aku nggak terima aku dengan postinganku yang lama. Seakan-akan dunia ini nggak ada beban. Kenapa harus menunjukkan dunia tanpa beban, padahal kenyataan punya beban. Maksudnya, ketika tanpa beban di posting, tapi kenapa saat dengan beban kenapa ngga diposting? Artinya itu ada dua

Postingan bahagia itu ternyata membebani aku saat memiliki masalah. Dan kebetulan aku selalu posting hal-hal yang positif. Tapi again, untuk sadar mempraktikkannya tulisan positif adalah struggle buat aku juga. Dan aku merasa ketika aku posting sedikit kebahagiaan saat ada masalah, orang akan berpikir "loh kok udah baikan aja sih, cepet banget.". Posting sedikit kebahagiaan itu misalnya ada hal yang lucu lalu aku posting stories (sebenarnya ga lucu-lucu amat, tapi ya jadinya adiksi buat berbagi hal lain yang lucu). Tapi emang aku sadari, aku ini tipe penghibur. Suka melucu. Jadi bawannya tuh nyari ide buat melucu. Nggak lucu pun tetap

Main media sosial ternyata juga memikirkan bagaimana orang lain memandang. Dan sulit konsisten memiliki pandangan yang positif. Di psikologi sosial, kejadian ketika kita memikirkan apa yang dipikirkan orang lain disebut dengan atribusi. Atribusi dibagi menjadi atribusi positif dan negatif.

Sebenarnya kalau orang-orang yang menjadi following-ku adalah bukan orang-orang sekitar (kehidupan sehari-hari), sih okay-okay aja.

Tapi, kalau buat orang sekitar...ya itu tadi.... ngerasa ada clash tersendiri, "loh bukannya lagi ada masalah, harusnya sedih dong" atau juga kayak gini "oh ternyata dia memilih aktivitas disana ya daripada aktivitas bersamaku". Ada pikiran-pikiran membandingkan dengan apa yang dipikirkan (seharusnya) individu terhadap postingan individu yang lain. Maksudnya, pikiran orang lain cenderung menuntut kita sesuai dengan pikirannya...seharusnya begini-begitu.

Mungkin tulisan ini membingungkan. Tapi dari masalah yang aku hadapi jadi belajar untuk, "simpan duka-suka cita mu ros, lebih baik gitu daripada kepikiran". 

Fix, No Instagram Post but still having Some Blogs Post..

Semarang, 25 April 2018.

Minggu, 13 Mei 2018

Bulai Mei adalah Bulan Rindu

Bulan yang diisi dengan renungan dan senandung Qur'an
Bulan Mei tahun ini menjadi bulan yang paling dirindukan.

Sabtu, 28 April 2018

Menjadi Orang yang Merasa (Tak) Berharga

Sebut saja  Fitria, aku sedang mencurahkan isi hatiku. Minggu-minggu ini, aku sedang memiliki masalah besar. Ia datang menghampiri hidupku yang nyaman dan damai, rasanya penuh tak kesiapan alias bingung. Aku harus bertingkah laku seperti apa yang seharusnya. Aku hanya berusaha keras dengan diriku, kutekankan pada diri bahwa aku memiliki modal keberanian menantang masalah, dan yakinlah ayat bahwa perlahan-lahan cahaya datang menerangi kesulitan.

All izz well.

Aih, pembuka macam apa itu.

Tadi sore aku menonton video Mbak Merry Riana.
Aku klik saja itu.

Kata pembukanya seperti ini :

Kamu adalah seseorang yang istimewa. Kalau menurutmu kamu tidak istimewa, itu karena kamu belum menyadarinya. Kamu berharga, kamu sangat berharga.Tidak peduli apapun kekuranganmu, apapun kesalahanmu, apapun masa lalumu. Kamu tetap berharga, tidak peduli apa kata mereka.
Aku sebenarnya hanya ingin menonton saja. Apakah aku termasuk orang yang sedang merasa bahwa diriku tak berharga atau tidak. Ternyata ada salah satu kata, yang kupetik :

Ketika kamu dijahui, jangan berkecil hati.
Walaupun mungkin kamu dibully.
Jangan pernah kamu merasa tidak pantas,
hanya karena orang bilang kamu tidak berkualitas.
Dengar bagian itu semua aku merasa tersentuh. Sepertinya pada saat dilanda masalah memang akan mengantarkan diri menuju pintu sensitivitas. Semua hal yang dirasa dulu biasa saja, berubah menjadi negatif. Semua pencapaian terdahulu tertutupi oleh kesalahan terbaru.

Orang yang merasa diri tak berharga ternyata seperti ini. Bingung mau melakukan apa. Merasa bahwa diri sudah tak dapat berbuat kebaikan kembali. Seperti sedang kehilangan nyawa. Dorongan dalam diri hanya ingin segera berkelana, Berkelana entah kemana dan dengan siapa, tak penting. Yang terpenting lari meninggalkan titik penghabisan.

Aku pun baru menyadari bahwa ternyata nikmat merasa diri berharga adalah sebuah karunia yang besar. Ini memang soal kognitif. Bagaimana kita menginterpretasikan suatu kejadian yang menyakitkan menjadi sebuah kesempatan untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi atau justru menjadi pribadi terpuruk.

Jadi ingat pesan Abah Quraisy Shihab, bahwa semua yang sedih maupun bahagia dihadapi manusia  itu adalah takdir. Takdir bisa dipilih.

Untuk semua teman yang merasa diri sedang tak berharga, aku ada pesan, ada kalanya kamu merenung. Pisahkan mana bahasa hatimu dan mana bahasa orang lain yang tak kamu kenal. Dengarkan hati. Hati paling tahu yang sebenarnya.