Selasa, 01 Januari 2019

Pertama Kali ke Luar Jawa, Terima Kasih Tanoto Scholars Gathering 2017!

Dari kiri, Agas, Susanti, Intan, Vike, Iga, Adven, Talitha, Debora, Niko, Surya, saya
Tanoto Foundation adalah sebuah lembaga filantropi yang didirikan oleh pengusaha Indonesia yang peduli terhadap kemiskinan. Beliau adalah Bapak Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto yang meyakini bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk tumbuh dengan potensi-potensi.

Terdapat 3 nilai yang selalu didengungkan di Tanoto Foundation adalah : 3E (Education, Empowerment, Enhancement).  

Perusahaan apa saja yang dimiliki oleh Bapak Sukanto Tanoto?

Wah belum tau ya, beliau adalah pendiri RGE (Royal Golden Eagle) group, yakni kelompok perusahaan kelas dunia dengan aset lebih dari  US$ 18 miliar yang beroperasi di Indonesia, Tiongkok, Brazil, Spanyol, Kanada, dan kantor pemeasarannya di seluruh dunia. Terdapat 4 area kunci operasional : pulp dan kertas (APRIL- Asia Pacific Resources International Holding Ltd and Asia Syimbol), kelapa sawit dan (Asian Agri dan Apical), rayon, dan pulp (Sateri International dan APR), dan energi (Pacific Oil dan Gas).
Apakah Tanoto Foundation itu CSR?

Jawabannya adalah bukan. Bapak Sukanto memisahkan antara CSR dengan sebuah lembaga kepedulian. Btw, beliau udah sejak tahun 1981 suka dengan kegiatan filantropi, dan baru sah mendirikan Tanoto Foundation sejak 2001. Proses memang lama, tapi tenang tidak mengkhianati hasil ya...

Gimana tuh bisa jadi Tanoto Scholar (Penerima Beasiswa)?

Sejak tahun 2017, program untuk mahasiswa yang tersebar di 12 Universitas di Indonesia disebur dengan TELADAN. Sementara saya dulu masih dalam National Champion Scholarship (NCS). 


Wah apa bedanya? 

Pertama, pada TELADAN ini akan diberikan pelatihan kepemimpinan yang jauh lebih komprehensif daripada NCS.  

Kedua, sasaran program TELADAN adalah mahasiswa/i program sarjana S1 semester 1 dari perguruan tinggi mitra Tanoto Foundation yang memiliki kemampuan, prestasi, dan potensi menjadi pemimpin yang cakap, unggul dan bertanggung jawab. Sementara dulu NCS bisa untuk semester 2 hingga 6.

Lebih enak mana nih? Ya TELADAN lah, tapi seleksinya juga makin ketat yah. Sepertinya buka pada bulan September tiap tahunnya. 

Berikut syarat umum pelamar beasiswa TELADAN ini  :

  • Warga Negara Indonesian (WNI)
  • Terdaftar sebagai mahasiswa/i semester I untuk program Sarjana (S1) di perguruan tinggi mitra berikut:

1. Institut Pertanian Bogor
2. Institut Teknologi Bandung
3. Universitas Indonesia
4. Univesitas Sumatera Utara
5. Universitas Gadjah Mada
6. Universitas Riau
7. Universitas Andalas
8. Universitas Brawijaya
9. Universitas Diponegoro

  • Memiliki prestasi akademik yang baik di tingkat SMA dengan nilai rata-rata raport kelas 12 (semester 1 & 2) adalah 8,00 (dalam skala 10)
  • Menunjukkan potensi kepemimpinan yang kuat serta berkomitmen untuk berkontribusi pada masyarakat dan pengembangan bangsa
  • Dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik. Kemampuan berbahasa Inggris akan menjadi nilai tambah bagi kandidat
  • Mendaftarkan diri secara online pada website Tanoto Foundation

Oke sudah ya nyeritain tentang beasiswanya. Nah, sekarang saya ingin cerita salah satu manfaat yang didapatkan ketika menjadi Tanoto Scholar. Saya berkesempatan terbang bersama teman-teman penerima se-Undip untuk hadir dalam pertemuan nasional. Isinya have fun banget, ketemu sama pembalap terkenal Rio Haryanto juga karena ada sesi talkshow gitu. Plus outbond yang menyenangkan. Dan tentunya bisa kenal dengan teman-teman se-Indonesia.

Ohya, kita juga company visit ke perusahan RGE loh.


Rombongan diajak menuju Kerinci Central Nursery (KCN) tempat pembibitan dan pertumbuhan akasia muda. Di sana, rombongan dipandu untuk melihat langsung bagaimana cara pembibitan, pertumbuhan dan perkembangan akasia hingga siap untuk dikirim ke lapangan menuju proses penanaman.

Wajah senang kerena pertama kali bisa tahu kekayaan alam Indonesia yaitu kelapa sawit yang dapat menjadi energi eco-friendly.


 
Di RAPP yang bertanya dapat hadiah, yaitu meminum minyak goreng. Tenang...aman kok

Terima kasih Tanoto Foundation yang sudah memberikan kesempatan saya untuk bergabung dalam Tanoto Scholars Gathering 2017 di Pangkalan Kerinci, Riau. Awesome! It was my first experience going out of Java. 

Selasa, 19 Juni 2018

Sebuah Pilihan : Psikolog Klinis Dewasa atau Anak

Ini bukan karena aku udah keterima, tapi karena aku baru mau masuk kuliah S2.

Nah, di Unpad & UI ada dua pilihan jurusan untuk bidang klinis yaitu Dewasa & Anak. Aku akan milih Dewasa. Kenapa? Karena aku suka dengan dunia personality development yang baru bisa diidentifikasi saat remaja dan dewasa. Kemudian, karena di Undip membawa nafas Psikologi Keluarga, aku jadi suka membahas psikologi dalam konteks keluarga. Dan keberhasilan suatu keluarga sangat ditentukan oleh orang dewasa di dalamnya. That's why I choose Adoloscence Psychology for my master.

Nah ini kalau kuliah S2 di Indonesia. Kalau luar negeri? Next Post

Rabu, 13 Juni 2018

Cerita Martabak

Adanya adek di rumah tidak hanya membuat rumah ramai, tapi juga pengeluaran agak melebih batas. Dia ini suka sekali jajan di luar, padahal di rumah juga udah makan banyak. Entah karena dia itu nggak pernah makan enak atau kebiasaan makan enak, semua makanan enak yang dipengenin musti diturutin. Salah satunya martabak manis. Favoritnya adalah rasa keju dan kacang. Sama sih kesukaannya kayak aku, tapi Bapak nggak suka kacang.

Nah, malam ini aku diminta Ibu untuk bayar angsuran via ATM, lalu adekku nitip dibelikan martabak kesukaanya. Ibu pun menyahut, "beli yang murah, belinya di depan rumah X itu ngelewatin sungai lurus aja menghadap barat, disitu cuman 11 ribu.Jangan beli yang 30 ribu. Kemahalan. Hematlah.."

Saat aku mengikuti arahan Ibu, ternyata tidak menemukan penjual martabak. Jadi aku beli di tempat lain. Aku cek harga keju dan kacang ternyata cuman 25 ribu. Bukan 30 ribu kan ya.

Sampai rumah aku ditanya Ibu terkait harga. Ibu udah mau ambil martabaknya tapi nggak jadi gara-gara aku bilang harganya 25 ribu. "Ya Allah cuman beli martabak aja mahal, kalau yang murah nggak buka, mending nggak usah beli. Buat apa memenuhi keinginan perut. Hematlah.."

Lalu aku terdiam.

Sebegitu ndak hematnya kah adekku? Sepertinya dia udah beli martabak seharga gitu beberapa kali sampai bikin ibu menyuruh hemat.

Dipikir-pikir iya begitu. Tapi ya namanya snack, kayak emang lagi pengennya itu ya mau gimana gitu. Tapi mungkin alangkah baiknya juga adek bisa menahan diri.

Dari kejadian ini membuatku ingin segera menghasilkan uang biar bisa membelikan martabak tanpa disuruh hemat. Hahaha

Selasa, 12 Juni 2018

Usia 21 Tahun Sudah Sarjana

Seperti biasa, setiap postingan diawali dengan 'Hai'.

Jadi kali ini akan bercerita tentang hari lahirku. Alhamdulillahirobbil 'alamiin. Bisa sehat wal'afiat pada usia 22 tahun.

Perjalanan menuju Juni ini perlu diapresiasi sendiri. Mungkin sekalian berdoa untuk diri sendiri ya.

Selamat ya Ros udah bertahan dan kuat menahan emosi. Semoga semakin dewasa dalam berpikir dan memiliki spiritualitas yang baik. Ingat Allah dimanapun. Ingat selalu untuk selalu punya niat yang baik karena Allah. Sayangi orang tua, beri waktu dan kasih sayangmu ros. Insya Allah, Allah bakal ngasih apa yang dibutuhkan. Apapun...Jangan khawatir.
Dan yang bikin bahagia bukan tanggal 12 Juni, tapi tanggal 6 Juni. Alhamdulillah sudah yudisium. Artinya, saat aku belum sah berusia 22 tahun, aku udah sah menyandang gelar S.Psi. Kenapa harus bangga? Hahaha. Karena mungkin pernah ngeliat di timeline IG, "alhamdulillah bisa selesai kuliah di usia 21 tahun". Lah kamu ros? Kan kamu 21 tahun mau jadi 22 tahun selisih 6 hari doang wkwk. Sudahlah ini tidak penting. Yang penting adalah sehat. Jadi inget masa-masa perjuangan, rasa cemas bercampur aduk kala itu.

Alhamdulillah diizinkan sidang pada tanggal 29 Maret, lalu revisi selama sebulan April penuh. Kemudian seharusnya bisa yudisium pada bulan Mei, tapi ternyata ndak buka yudisium. Kenapa? Karena yang daftar cuman 1 itu pun udah nggak minggu pertama, biasanya yudisium itu awal bulan, saat itu banyak persyaratan yudisium yang belum dipenuhi , salah satunya adalah jurnal. Untuk ACC membutuhkan waktu revisi dari dosen pembimbing.

Daftar sidang Maret sebenarnya berharap bisa ngejar wisuda Mei, tapi revisian musti beres di awal bulan April biar bisa yudisium dan bisa daftar wisuda Mei. Sementara bulan April adalah bulan akreditasi, kampusku sangat sibuk yang tak bisa digambarkan melalui kata-kata.

Ada lagi yang bikin bersyukur banget, berkat kerja keras civitas akademika, per wisuda Agustus besok kami mendapatkan kelulusan di ijazah dengan akreditasi A. Inilah yang menjadi hikmah kenapa aku baru wisuda bulan Agustus, ternyata biar dapat akreditasi baru. Heheh

Kalau diingat-ingat lagi, dulu kan sempat kuliah di Universitas Negeri Malang (UM) dengan jurusan psikologi juga, tapi masih akreditasi C. Kemudian selang 2 minggu setelah kuliah, dapat kabar kalau aku keterima Undip. Sebenarnya aku juga eman dengan UKT yang udah dibayarkan di UM, tapi ternyata UKT di Undip pun sama persis jumlahnya, jadi mikirku ngga rugi-rugi amat. Selain itu pertimbangan mengenai akreditasi, Psikologi Undip saat itu masih B per tahun 2013 kalau ndak salah. Kemudian aku memproyeksikan kalau Psikologi Undip 5 tahun lagi setelah itu kemungkinan bisa dapat A.

Sempat menargetkan lulus atau sidang di bulan Januari, tapi ternyata ada aja tantangan buat ngerjain skripsi, jadi belum selesai.

Beberapa bilang, "kok cepet sih lulusnya". Sebenarnya ingin menjawab gini, "ini aja udah molor dari yang aku targetkan yaitu Januari". Tapi ngga boleh jawab kayak gitu, semua ini datangnya dari Allah. Gitu jawabnya.

Aku pernah bilang ke teman kalau rencana lulusku memang Januari, kalau lebih dari itu berarti ada sesuatu. Kalau digambarkan mungkin gini, semester 6 aku udah ambil mata kuliah Seminar Proposal. Nggak cuman aku ya, semua angkatan 2014 memang diproyeksikan bisa lulus 3,5 tahun karena semester 7 udah nggak ada mata kuliah wajib yang harus diambil. Sebenarnya aku juga nggak ngebet 3,5 tahun banget sih, waktu itu mikirnya, masa ada kesempatan 3,5 tahun ngga diambil, gak boleh loh menyia-nyiakan kesempatan. Seperti Safira, anak ITS, dia mengatakan kalau dia susah banget buat lulus 3,5 tahun dan dia memutuskan untuk lulus 4 tahun. Well, apakah mungkin ini penyebab kenapa aku ngga bisa lulus 3,5 tahun karena nggak terlalu yakin buat bisa. Tapi ndak juga sih, aku udah ngerencanain bimbingan dan step-step agar lulus, tapi mungkin aku baru bener-bener semangat, berkonsentrasi dan fokus ngerjain skripsi itu bulan Desember. Kalau nggak salah selama bulan November aku berhenti karena masa-masa transisi habis dari Riau. Apaan sih nggak nyambung. Terimakasih buat Dira yang udah mau bareng-bareng dan akhirnya bisa lulus bareng.