Rabu, 18 Maret 2020

Menemani Teman Skripsian

Dulu sempat bilang enggan hidup di Semarang. Dasar sayanya sendiri yang memang nggak suka menetap di kota orang terlalu lama dan ingin hijrah. Tapi nasib berkata lain. Saya diizinkan bersenang-senang di Kota Atlas ini untuk gawe di LSM.

Masya Allah dibalik menetapnya saya di Semarang ternyata receh sekali tapi penting. Bekerja LSM yang santai membuat saya hampir selalu bisa menyempatkan menemani skripsian teman saya. Cuman ya saya juga tanya ke diri sendiri, apa yang saya cari dari menemani skripsi. Yang saya lakukan hanyalah ingin membantu teman saya untuk segera menyelesaikan. 
Sebagai pejuang skripsi yang dulunya anti ngerjain di kosan, paham banget butuh teman sekedar ngafe bareng.

Tapi kemarin ada yang lucu juga.

"Eh nanti di cafe jangan banyak cerita yah. Aku harus fokus ngerjain", kata temanku di whatsapp. 

Memang pernah sekali aja agak lost control  buat bercerita. Malam itu, saat di Antara Kata Coffee. Tapi ketika menulis ini, saya sudah lupa apa yang saya ceritakan saat itu. Hehehe

Ngomongin lupa, tadi saya mencoba mengaktifkan m-banking, lah kok saya lupa username yang saya ganti dengan sadar. Apakah ini sindrom penuaan dini.

Ohya, saat ini domisili saya di bagian Semarang Barat dekat kampus UIN karena dekat kantor. Alhasil, saya memiliki dua tempat yang bisa didatangi, satunya lagi tahu lah ya "Tembalang City". Apa menariknya Ros?
Jadi, teman yang harus saya temani skripsian ada dua orang di tempat yang berbeda. Kadang kami mengerjakan bersama di tengah-tengah. Gak paham lagi memang.

Bagaimana kalau Ibu saya tahu tentang ini? Dijewer mungkin kali ya. Karena saya ngabisin uang untuk menemani aja. Nanti saya jelaskan aja, kalau di tengah menemani saya juga berkarya.

Ah yasudahlah, saya berencana menulis lagi disini. Semoga tidak wacana

Rabu, 25 Desember 2019

2020 Kerja Dimana

Ngerasa udah saatnya meningkatkan kapasitas diri
Semoga ketemu jalannya
Jalan yang kayak gimana Ros
Aku suka bekerja untuk kegiatan sosial. Nerapin sebuah intervensi gitu mungkin ya. Di Semarang udah nerapin modul kespro untuk SMP/MTs sederajat.
What's next? Let's see.

Desember Ceria (?)

Desember ceria
Inginnya sih begitu
Tapi banyak hal yang tak kupahami
Tahun lalu dibuatin meme sama rekan kantor


Bude Sumiyati vibes  "Dihujani apa aku, tak basah tapi ingin berteduh"
Baru mudeng setelah baca buku full version-nya di Gramedia
Bisa gitu ya Desember baru sefrekuensi sama Bude
Fans yang telat memahami

Yogyakarta, 25-12-2019

Kamis, 05 Desember 2019

Lima Desember

Saya sedih di tanggal 5 Desember ini. Sedih mengingat sebentar lagi tahun baru dan saya belum melakukan kegiatan menulis, termasuk meninggalkan blog ini dalam kurun waktu cukup lama.

Apa yang saya cari?
Apa yang membuat saya produktif.

Iya, ini sesuai dengan peringatan 5 Desember "Hari Relawan Internasional".
Mengapa?
Menjadi relawan itu tidak melulu enak.
Apalagi ketika mengerjakan sebuah project yang didanai oleh donor.
Wah, kita harus jadi relawan yang nggak kaleng-kaleng.
Harus ngebuktiin kalau kita bisa profesional, meski ilmu kita sebagai fresh graduate tak seberapa.
Kayaknya tulisan ini akan jadi kesombongan, padahal enggak.

Mau mengeluh dalam tulisan ini, dimana dalam satu timku saat ini ada sosok-sosok yang kurang mendukung kinerja bersama. Alhasil terjadilah tumpang tindih ataupun double job. 

Lelah, tapi suka.

Suatu ketika sedang mengobrol dengan timku dan mencari-cari relawan yang sekiranya bisa bantu back up pekerjaan para staf.

"Eh gimana kalau Si Lala", kata temanku cowok.
"Hmm..dia tuh hanya ngerjain apa yang dia sukain aja og", rekan cewek membalas.
"Loh kayak aku dong!", jawabku.
"Plis deh ros....kamu tuh engga gitu', tukas dengan ketus teman-temanku kompak.
.........................
Percakapan berhenti karena hujan akan turun. Kami bergegas menuju mobil.
Entah apa maksud mereka menyatakan kalimat itu. Kemudian aku sadar, betapa aku multi tasking mengerjakan banyak hal dengan senang hati. Serasa dunia kerelawanan adalah hidupku. Dengan menulis kali ini aku menyadari bahwa aku perlu mundur, memberikan jeda sebentar pada diriku.

Tuhan, terima kasih atas nikmat kesehatan yang engkau berikan kepadaku. Walau terkadang aku masih saja mengeluh dan over thinking  terhadap apa yang aku dapatkan.

Rabu, 04 Desember 2019

Menjadi Staf PILAR

Beberapa waktu lalu Tanoto Foundation mengadakan Alumni Gathering. Namun, unluckyly aku nggak ngecek grup Line yang ngasih tahu buat datang ke acara tersebut, padahal dibayarin tiketnya.

Bulan November memang bulan hectic, apalagi tim sedang tidak all productive. Lalu, dengan polosnya aku melempar pernyataan "Hiiiii sedih...gabisa ikut alumni gathering beasiswaku dulu". Salah satu temanku menjawab enteng, "loh enak lah, jadi enggak bingung ditanya sekarang kerja dimana". 

Wadidaw.

Iya juga yah.

Apakah aku sudah cukup kuat menjelaskan kalau aku bekerja di sebuah NGO?
Apakah aku sudah cukup puas dengan pencapaianku selama menjabat sebagai fresh graduate?

Wah banyak yah.
Ada alasan mengapa aku masih stay  di NGO-ku saat ini. Tak lepas dari dukungan senior sih. Dulu salah satunya juga bilang, "kalau kamu mau S2, jangan kerja di korporat, pasti sibuk banget".  Walau at the end, kok tetep sibuk ya. Hahaha

Dulu kecemplung di dunia NGO karena ngerasa biasa belajar banyak tentang desain intervensi. Seneng banget dengan program kayak sekarang. Walaupun ketika ngerjain project dengan donor dari luar haruslah tetap aware dan tidak jadi terlena, agar tetap sesuai nilai idealis. Banyak belajar banget.

Selain itu, di NGO -ku saat ini tuh banyak belajar tentang hal mudah yang jarang dimiliki orang-orang yaitu fokus. Selama ini aku berusaha untuk fokus ngerjain project-projcet outcome area yang menjadi tanggung jawabku. Bisa dibilang yang paling banyak laporannya sih punyaku. Jadi inget deh, Desember ini semua laporan haruslah kelar, agar supaya saat pernikahan salah satu staf nanti udah nggak mikir laporan.

Ada staf baru yang masih belajar tentang kefokusan, dia baru saja lulus. Darinya aku belajar untuk mensyukuri dan berusaha ngeshare tips agar perlahan bisa menyesuaikan diri. Ada cerita cukup mencengangkan, suatu ketika aku ngechat whatsapp. Pertama, aku mengaku salah karena terlalu malam yakni pukul 20.00 untuk mengingatkan pekerjaan terdekat.

"Relawan (divisi) mu udah kamu kasih tahu tentang kegiatan terdekat nggak? Sudah tahu siapa yang akan jadi MC?"
"Udah (padahal belom disampaiin ke relawan). Kak Ros, aku wegah. Ini sudah malam, masa bahas kerjaan. Aku lagi ngerjain kegiatan kepanitian lain lho ini"
"Lho, kalau kamu lagi wegah, ya ndak usah bales dulu aja. Aku kadang juga sering begitu kalau sedang tidak mampu untuk menjawab maksimal"
"Ya ini aku jawab seadanya aja"

Beberapa jam kemudian, ia meminta maaf atas perkataan di chat. 

Lucu tapi menyenangkan. Sebel juga sebenernya. Mengapa masih ada marah diantara kita meski sudah jelas niatnya untuk kebaikan. Agar esok dia lebih strategis dalam menyusun langkah-langkah.

Jadi gimana Ros menjadi staf PILAR itu? Nano-nano.

Rabu, 14 Agustus 2019

Makhluk Rentan Bernama Broken Home

Hari itu sangat baik karena di PKBI sedang ada pelatihan psychological first aids (PFA) bagi para relawan dari Universitas Negeri Semarang.

Awalnya aku kira PFA akan fokus bagaimana kita bisa membantu korban bencana alam seperti materi pelatihan waktu kuliah dulu. Ternyata sama sekali nggak. Pelatihan kali itu berfokus menyiapkan kita untuk membantu teman kita yang mengalami masalah secara psikologis. 

Uniknya, dalam slide materi disebutkan bahwa ada beberapa manusia yang rentan membutuhkan pertolongan secara psikologis yaitu anak broken home. 

Mengutip dari pijarpsikologi.org,  keluarga secara umum dibagi menjadi dua, yaitu keluarga yang utuh dan tidak utuh (broken). Kemudian, keluarga “broken” bukan hanya keluarga yang kedua orangtuanya bercerai, tetapi keluarga yang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan fisik, ekonomi, psikologis, dan sosial.

Kebutuhan utama anak adalah kasih sayang. Tanda utamanya adalah adanya kepercayaan. Hal ini sesuai dengan tahap perkembangan Erikson dimana pada usia 0-2 tahun anak mengalami fase trust vs mistrust. Apa dampaknya? Banyak, terutama dari segi kecerdasan interpersonal, dimana anak kurang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya karena kurang adanya komunikasi yang baik dengan orang tua, timbulnya self esteem rendah, serta susah menentukan sebuah pilihan.

Menarik juga cerita yang pernah aku dengarkan dari salah seorang guru saat siaran radio PILAR. Ia menceritakan bahwa dulu memiliki masa lalu yang kelam, dimana orang tua cerai dan terpaksa dirawat oleh kakak nenek yang saat itu dikiranya adalah orang tua kandung. Beruntung beliau mengaku bahwa ia berada dalam rumah yang bagus dan mendukungnya untuk menjadi manusia utuh meski tanpa orang tua asli. Dalam kesimpulannya ia menyebutkan bahwa "Tidak semua anak broken home akan menjadi nakal, semua tergantung bagaimana lingkungannya membentuk dan menerima kekurangannya. Wadah ya tepat akan bisa membuatnya berkembang".

Well, sebenernya apa aja sih sekiranya yang akan jadi dampak?

Rusaknya Perkembangan Otak

Berdasarkan The National Center for Post Traumatic  Stress Disorder (PTSD), traumatic stress  berhubungan dengan perubahan di area kunci ota dan dapat meningkatkan kortisol dan norephinephrine yang selanjutnya menjadi stressor.

"Banyak hal yang dapat mempengaruhi perubahan bagi anak" kata Trauma Specialist Ginger Poag, M.SW, LSW, CEMDR.  "Otak berdamnpak parah; tubuh menjadi dipenuhi oleh hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Ketika hormon stres lepas, maka kita bisa melihat perkembangan otak terganggu dan adanya kerusakan secara neurologis.

Membangun bahtera rumah tangga memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sejatinya, tidak ada pasangan yang ingin menikah lalu berpisah. Perpisahan tidak hanya menyakitkan, tapi juga mengorbankan kebahagiaan anak-anak. 

Perasaan Galau Bikin Prestasi Menurun

Hal ini terjadi karena anak kurang konsentrasi dan merasa sedih yang cukup berlarut. Baru-baru ini aja tahu ada salah satu teman sekolahku yang menjadi anak broken home, kebetulan lagi trend di twitter tentang Main Events in the 10s 

10 ayah hampir amputasi
11  ortu hampir putus
12 graduate
13 main-main di SMA
14 main-main di SMA
15 Orang tua cerai. Nyoba kuliah di PTN, eh lolosnya lewat jalur mandiri
16 Struggling kuliah
17 Ngerasain IPK bagus
18 Skripsian
19 kerja di tempat keren

Ya udah jarang ngobrol sih sama dia. Dulu pernah main ke rumahnya dan terlihat baik-baik saja. Dibandingkan dengan temanku yang memiliki orang tua harmonis, dia memang jarang pulang kampung. Aku kira karena memang nyaman di tempat rantau. Memang huru hara rumah tangga tidak ada yang tahu, pun termasuk anak. Orang tua memiliki masalah yang bagi mereka sulit ditemukan uraian solusi selain putus.

Jadi inget juga habis nonton film Marriage Story di Netflix, dimana pertikaian pasangan udah kayak debat capres-cawapres a.k.a tidak ada putusnya sama sekali. Mereka berdua mengusahakan untuk tidak melalui persidangan, jadi lewat mediator maupun terapis. Namun, di tengah usaha itu ada-ada aja kejadian perselingkuhan yang bikin Sang Istri. Sebenarnya ada scene dimana rata-rata para penonton mungkin berharap keduanya balikan, yakni ketika membaca catatan kelebihan/apa yang disuka dari Sang Mantan Suami. Catatan ini dibuat saat menemui mediator di awal-awal film ini. Saat itu Sang Istri enggan membacakan isinya, padahal cukup jelas di bagian akhir catatan I will always love you, meski tidak rasional. Film ini menggambarkan proses perceraian yang ngga cepat alias berdrama sekali. Plus, usahakan sudah selesai dengan ego passion, keduanya sama-sama seniman, satunya sutradara dan satunya lagi aktrisnya. Ohya, perdebatan domisili juga jadi masalah, dimana Sang Istri keukeuh pengen di LA, sementara Sang Suami ingin di New York saja.

Think twice! Jangan sampai nikah dengan stranger. Kita harus kenal kekurangan dan kelebihan, mengukur sudah sedewasa apa pasangan kita, sudah selesai dengan passion yang dikejarnya apa belum, lalu domisili dimana temukan jalan tengah. Jika LA enggan, New York juga enggan, pilih saja tengahnya yaitu Broadway. Hahahah. Jika Malang enggan, Sidoarjo juga enggan, pilih saja Pasuruan.



(bersambung)

Referensi:


Kamis, 11 Juli 2019

Toxic Relationship dan Orang Tua

Adalah suatu kebahagiaan ketika bisa menangani kasus dengan baik, sesuai tujuan proses konseling. Namun, ini adalah kisah yang bukan literally konseling dimana seharusnya ada durasi yang ditentukan saat awal.

Gimana ceritanya?

Mulai dari mana ya?

Lho kok saya jadi galau.

Intinya, ketemu dengan janjian terlebih dahulu. Awal-awal ketemu cerita tentang pekerjaan masing-masing. Pastinya cerita tentang rekan kerja yang bikin kurang nyaman. Whatta...apa sih nama fenomena itu, toxic coworker apa ya

Ya Allah, bener-bener shifting banget ya....dulu paling cerita tentang guru killer atau PR yang belom selesai. Sekarang udah saatnya bahas gimana lingkungan pekerjaan masing-masing. Whatta. 

Lalu, dia akhirnya menanyakan gimana kehidupan asmara. Pun aku menanyakan kembali. Respon dia malah menyuruhku untuk menebak kira-kira keadaannya saat ini gimana. Sempat aku tebak dalam keadaan putus atau hubungan tanpa status, tapi ternyata dia sedang berada fase diancam oleh pacarnya.

"Aku ingin menyudahi untuk tidak terlalu bergantung dengan dia. Tapi dia engga mudeng. Dia engga mau putus dengan alasan itu. Aku tahu dia cukup baik, dia menggantikan orang tua ku ketika sedih. Tapi aku engga mau terlalu dekat dan menggantungkan diri. Aku dah minta bantuan ke temennya untuk ngejelasin permintaanku. Dia malah mengancamku kalau sampai bener-bener putus, bakal ceritain gimana perilaku negatif ku selama pacaran. Aku bakal dicap sebagai anak nakal dan ngga membangggakan. Dia (pacar) cukup nekat banget. Udah pernah kejadian waktu itu dia ngelaporin aibku ke orang tua", ungkapnya.

Aku yang saat itu tidak berniat melakukan konseling, menyadari melakukan beberapa kesalahan. Aku secara langsung menyuruh dia untuk putus saja. Sementara, konselor sebaiknya mendengar dan hanya merespon ketika diminta memberikan saran. Konselor perlu memahami sejauh mana konseli dalam memersepsi sebuah stressor.

Dibalik enggannya putus, ada sexually & emotionally engagement. Iya, ketika seorang pacar menjadikan itu alasan untuk mengancam pasangannya mengenai fakta itu kepada orang tua pasangan. Apa sih. Ini sungguhan.

Hari bertemu saat itu pun berlalu tak cukup lama, karena sudah malam. Sebuah refleksi yang aku lempar kepadanya, ketika kamu sedang pada kondisi yang membahayakan jiwamu, siapa yang harus tahu terlebih dahulu?. 


Orang tua (n) sosok yang melahirkan kita, cukup banyak jasanya hingga kita dikaruniai pikiran dan kebebasan berekespresi hingga terkadang kelewat batas pantauan.


Beberapa minggu kemudian, aku bertanya kabar. Dan ternyata dia sudah cukup aman setelah bercerita kepada orang tuanya. Dia diminta puasa sosmed dan HP. Dia hanya pulang-pergi kantor saja selama sebulan penuh. Luar biasa. Dia bilang bahwa HP nya pun disita oleh orang tuanya. Orang tua melindungi dia dari pacar toxic-nya.


Pertanyaan konyolku, "Kamu berarti nggak maen instagram lagi dong?". 

Kamis, 20 Juni 2019

Jadi S2 ?

Judul yang singkat untuk perasaan yang engga singkat.

Sejak  tahun lalu saya diharapkan oleh orang tua untuk langsung saja daftar kuliah, mengingat perempuan itu punya usia untuk berumah tangga segera setelah lulus. Orang tua saya berpikir dengan kuliah S2 dulu langsung dari lulus S1 maka kehidupan rumah tangga nanti lebih nyaman.

Sayangnya kondisi lulus saat itu belum ada pendaftaran S2 yang saya bisa ikuti. Saat itu ijazah keluar bulan Agustus, akan tetapi pendaftaran S2 buka pada bulan April-Juli.

Tak berhenti berjuang, saya pun mendaftar S2 di salah satu universitas swasta di Surabaya. Mengapa saya berani mengambil S2 di swasta? Bukannya terjadi penurunan prestasi kalau mengambil di swasta?

Oh tentu tidak seperti itu, sebab memang saya paham bahwa butuh usaha keras untuk bisa lolos di magister profesi psikologi, khususnya ......................

Minggu, 09 Juni 2019

'Penting Nggak Penting' Bernama Stalking

Selamat malam semuanya, kali ini saya sudah berada di kost saya tercinta di kota seribu pintu (re: Semarang).

Malam ini targetnya adalah ingin mendaftar sesuatu. Hal yang dibutuhkan adalah CV yang lengkap pastinya. Kemudian, saya mengecek akun linkedin, sambil melihat siapa saja yang connect dengan saya. Jujur saja, saya masih belum terlalu mengeksplor lebih jauh untuk penggunaan linkedin.

Apa kaitannya dengan judul saya?

Jadi begini, ketika saya berselancar tidak jelas dengan melihat teman-teman yang tersambung dengan akun saya, saya bisa jadi belajar. Saya jadi belajar untuk semakin mendetailkan semua kegiatan-kegiatan yang pernah saya lakukan, sekecil apapun.

Dan salah satu kegiatan yang belum saya tuliskan adalah kegiatan sebagai wakil ketua Tanoto Scholar Association Universitas Diponegoro. Singkatnya, paguyuban penerima beasiswa Tanoto Foundation membawa misi dari Bapak Sukanto Tanoto (Founder) untuk pay it forward for community alias melakukan pengabdian masyarakat sebagai ucapan terima kasih kepada beliau.

Apa yang kami lakukan?

Alhamdulillah ternyata salah satu adik saya yang waktu dulu menjabat sebagai sekretaris menulisnya di website Tanoto Foundation. Ya, ternyata penting juga menulis press release dari setiap kegiatan yang kita lakukan.

Versi English-nya aja ya yang saya cantumkan disini.
Life is not a run race, but a race to share. Pursuing a personal dream is important, but if it does not bring benefits to others, it will feel less meaningful. That is the intention set by members of the Tanoto Scholars Association of Universitas Diponegoro (Undip), Semarang. Sharing and benefiting others is an elaboration of the value we get from Tanoto Foundation, which is “pay it forward”.
We, Undip’s TSA, undertook a long-term community development program in 2017, from April to November. The location of our program is at Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Khaeriyah in Desa Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Central Java. We have undertaken several programs at this madrasah.
There were four main programs in our activities, namely cheerful Saturday, clean and healthy Saturday, planting Saturday, and library arrangement. Cheerful Saturday is a teaching and storytelling program for MI Al Khaeriyah students, clean and healthy Saturday is a program to teach clean and healthy lifestyle, and planting Saturday is a greening program in the school environment. One other program, library arrangement, is a school library renovation program.
” Universitas Diponegoro‘s Tanoto Scholars Program is very creative. The murals, created in the library, make the library room feel more alive and the students become interested in coming to the library. Thanks also for donating the books, “said Pak Muflikhun, Head of MI Al Khaeriyah.
Hopefully, the activities that we have undertaken for seven months at MI Al Khaeriyah can bring positive changes for the school environment.
Written by Niko Karuniawan, Tanoto Scholar from Universitas Diponegoro

Jumat, 07 Juni 2019

Saat di BEM Undip 2015

Menurut saya, sangat penting buat anak muda untuk memakan segala hal topik bahasan yang menyangkut pembangunan Indonesia. Salah satu wadah yang bisa ngebuat anak muda berkembang mindset-nya adalah Badan Eksekutif Mahasiswa atau yang disingkat 'BEM'.

BEM sendiri memiliki dua tingkat, yakni tingkat fakultas dan universitas. Apa perbedaannya? Tentu saja perbedaannya terkait orang-orang di dalamnya, fokus utama isu yang dibawa, budaya organisasi, dan pengalamannya.

Jika bergabung BEM Fakultas, maka akan bertemu dengan teman angkatan dan kakak tingkat kita saja. Sementara, BEM Universitas akan memberikan wadah pertemuan dari berbagai fakultas di universitas. Wah, enak di BEM Univ dong..... Tetep ada enak & nggak nya kok.

Salah satu dampak variasi fakultas adalah sulitnya menentukan jadwal kumpul rutin. Lalu, apalagi jika ada proyek kerja bareng dengan departemen lainnya....wuuh tantangan! Namun, manfaatnya adalah lebih greget nunjukin kemampuan diri. Why? Sebab, masing-masing anggota biasanya merepresentasikan jurusan/fakultasnya, jadi ketika kumpul itu benar-benar nggak mau biasa-biasa aja.

Ohya, di BEM sendiri ada jabatan. Waktu dulu di BEM Undip tahun 2015 (semester 2), saya menjadi staf eksekutif muda divisi Creative Imaging Bidang/Departemen/Kementerian Hubungan Masyarakat (zamanku dulu pakai kata-kata Bidang sebenarnya, tapi daripada bingung memahami). Divisi ini dikepalai oleh kepala divisi, yakni Mas Wisnu (Teknik Arsitektur, 2013). Ohya anggota divisi lainnya adalah tiga kakakku Bunga (HI, 2013), Kris (FKM,2013), dan Afrian (T.Elektro, 2013). Divisi ini mengerjakan sebuah campaign untuk pencitraan BEM Undip. Salah satu proyek kami yang besar adalah mengadakan lomba tingkat nasional.

Check this out!
Nah....Creative Campaign adalah kompetisi video kreatif ajakan untuk sadar penggunaan energi,


Saat itu proyek ini dibawa oleh Divisi Networking & Partnership Bidang Humas BEM Undip, lalu setelah melalui brainstorming akhirnya diadakan 2 lomba. Salah satunya yaitu Call For Paper yang dipegang oleh teman-teman Bidang Penalaran & Keilmuwan.

Nah ini pengumuman kelolosan full papernya untuk dipresentasikan di Semarang.


*Catatan ini ditulis ketika saya ingin mengabadikan bahwa banyak pengalaman yang ternyata membawa saya hingga seperti sekarang. Saat ini saya juga masih berkecimpung di dunia media & campaign untuk PILAR PKBI Jateng. PILAR sendiri adalah NGO yang fokus pada remaja, khususnya mendorong remaja untuk bersuara terkait pemenuhan hak kesehatan reproduksi. 

Catatan ini menyadarkan bahwa kreativitas dan media adalah hal yang saya sudah ada sejak lama. Saya menulisnya bukan untuk tujuan pamer, tetapi ingin menceritakan, barangkali saya jadi terpacu untuk menjadi lebih baik di bidang ini.Apalagi menjawab kebutuhan di zaman serba digital dan sosial media tanpa batas.


Kamis, 14 Februari 2019

Ini Bukan Dream Wedding, Sekedar Catatan Saja

Kayaknya dulu sering banget pas baca majalah anak muda obrolannya tentang dream wedding. Dan aku baru saja merenungi hal itu..baru kepikiran untuk mencatat sesuatu yang jarang ditulis orang lain haha. Tulisan ini murni untuk catatan diri sendiri aja. Banyak hal yang musti perlu diskusikan dengan pasangan kelak.

1. Mau pesta nikah gede-gede an atau hidup after pesta yang digedein?
Pas nulis ini jadi sadar bahwa aku lagi ngomongin pestanya bukan nikahnya sendiri. Hakikat nikah sebenernya berada saat ijab qobul kan. Makanya beberapa kakak-kakak milenial membuat pesta yang nggak biasa aja, yang cost-nya ngga difokusin ke pesta aja tapi juga untuk sesuatu yang berkesan. Misalnya membagikan buku yang ditulis bersama pasangan sebagai souvenir.

2. Pentingkah ikut trend bridesmaid?
Menurutku pada kenyataannya, fenomena ini membuat munculnya iri dan pertanyaan "aku bukan teman dekatnya yah blabla". Ya sebenernya sih gapapa, buat mereka yang nggak dapat kain gratis berarti  memang belum dianggap sedekat itu. Eaa.

Disisi lain mereka yang dapat dipekerjakan, wididi bahasanya, apa yaah yang pantes...mendapat job untuk flash mob misalnya, buat nganterin juga. Hm, jadi inget pesta yang aku datangin, sempitnya ruangan mustinya tidak memaksa adanya flasmob. Ya ngomongin pesta orang pasti ada kurangnya.

3. Nikahan di gedung apa di rumah saja? Pakai alas atau nggak? wkwk
Pernah pengalaman dateng ke nikahan temen yang nggak ada alasnya, jadi langsung tanah gitu pas napak. La trus kenapa? Menurutku kurang pas aja. Tapi sebenernya ngga jadi masalah sih. Mungkin lebih baik ada alasnya, eits tapi kemaren juga pernah datang ke nikahan yang ada alasnya kayu gitu...dan ternyata agak lucu juga. Namun, di pesta kali itu aku malah  fokus pada minus sanitasi dapur yang kelihatan kurang bersih, karena aku lewat belakang kali ya jadi kelihatan. Susah yaa bikin pesta, satu masalah terselesaikan tapi ada masalah lain.
Sementara ini, aku prefer ngadain di gedung aja, meski ada minus dimana musti on-time banget. Dan untuk gedung di hotel jatuhnya akan sangat mahal. Gimana nih, apa invest bikin sewaan gedung wkwkwk

4. Ngundang siapa aja?
Ini case sederhana tapi bisa jadi luar biasa. Alhamdulillahnya sekarang ngga harus undangan secara fisik ya, e-invtitation bergerilya, lebih murah jadinya. Tapi, pas hari H tetep perlu dikondisikan kalau mereka membeludak, kan ngefek ke persedian konsumsi ya. Hahaha. Apalagi untuk aku yang punya banyak temen, halaaaaaaah hoaks. Yang datang ke nikahan tetep orang-orang yang memprioritaskan dan yang deket. Masa ngga deket, tetep datang.

Jadi inget suatu hari aku mendapatkan undangan dari kakak tingkat yang pernah ku wawancarain. Saat itu aku izin ke Ibuku untuk datang ke nikahan yang jaraknya musti ditempuh dengan bus selama 2 jam.

"Kok diundang tho kamu?"
"Lah kenapa Bu gak boleh ta?"
"Kan kalau ngundang-ngundang itu kasihan"
"Ha, kasian gimana maksudnya Bu?"
"Kasian yang diundang dari jauh jadi kepikiran"
"Hmmm begitu ya Bu"

Ada-ada aja pikiran ibuku, tapi obrolan saat itu menjadi refleksi untuk bener-bener mikirin orang-orang yang kita undang untuk disediakan akomodasi yang sesuai, meliputi transportasi dan penginapan jika perlu.

Kalau Ibu kostku yang di Tembalang, mengungsikan saudara-saudaranya di hotel saat nikahan anaknya. Pas aqiqahan, juga ngundang keluarga dari Jawa Timur yang diungsikan di penginapan yang proper dan deket banget dengan rumah. Ya beliau memang kayah raya.

--------------------------
Secara random keinget caption yang dibuat temenku setelah ngadain pesta nikah :
"tak pusing dengan urusan persiapan, sebab ini "gawenya bapak ibukku", tapi bagiku ritual pernikahan adalah momen diujinya seberapa bisa kita mau meluaskan hati"

Wah bener juga, pesta  pernikahan bisa diserahkan banget ke orang tua kita, karena sebenernya yang ngerayain itu orang tua kita wkwk. Kecuali untuk manusia-manusia milenial yang terkenal dengan kemandirian, berusaha menyiapkan pesta secara detail. Orang tua yang punya pengalaman menangani pesta nikahannya dulu, punya perspektif sendiri yang perlu kita jadikan pertimbangan. Seneng banget sih ketika orang tua kita sukanya yang sederhana, jadi ga banyak-banyak persiapannya juga. Karena semakin kompleks, ujian kesabaran juga makin banyak.

Kesimpulan : Belajar terus supaya bisa nemuin rumus pesta pernikahan yang cocok di kantong dan dilogika.
Sekian terima kasih.
Foto dapat kain di sebuah pernikahan mewah, banyak sholawat biar nikahnya bisa kayak gitu. Sholeh-sholehah.


Selasa, 01 Januari 2019

Pertama Kali ke Luar Jawa, Terima Kasih Tanoto Scholars Gathering 2017!

Dari kiri, Agas, Susanti, Intan, Vike, Iga, Adven, Talitha, Debora, Niko, Surya, saya
Tanoto Foundation adalah sebuah lembaga filantropi yang didirikan oleh pengusaha Indonesia yang peduli terhadap kemiskinan. Beliau adalah Bapak Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto yang meyakini bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk tumbuh dengan potensi-potensi.

Terdapat 3 nilai yang selalu didengungkan di Tanoto Foundation adalah : 3E (Education, Empowerment, Enhancement).  

Perusahaan apa saja yang dimiliki oleh Bapak Sukanto Tanoto?

Wah belum tau ya, beliau adalah pendiri RGE (Royal Golden Eagle) group, yakni kelompok perusahaan kelas dunia dengan aset lebih dari  US$ 18 miliar yang beroperasi di Indonesia, Tiongkok, Brazil, Spanyol, Kanada, dan kantor pemeasarannya di seluruh dunia. Terdapat 4 area kunci operasional : pulp dan kertas (APRIL- Asia Pacific Resources International Holding Ltd and Asia Syimbol), kelapa sawit dan (Asian Agri dan Apical), rayon, dan pulp (Sateri International dan APR), dan energi (Pacific Oil dan Gas).
Apakah Tanoto Foundation itu CSR?

Jawabannya adalah bukan. Bapak Sukanto memisahkan antara CSR dengan sebuah lembaga kepedulian. Btw, beliau udah sejak tahun 1981 suka dengan kegiatan filantropi, dan baru sah mendirikan Tanoto Foundation sejak 2001. Proses memang lama, tapi tenang tidak mengkhianati hasil ya...

Gimana tuh bisa jadi Tanoto Scholar (Penerima Beasiswa)?

Sejak tahun 2017, program untuk mahasiswa yang tersebar di 12 Universitas di Indonesia disebur dengan TELADAN. Sementara saya dulu masih dalam National Champion Scholarship (NCS). 


Wah apa bedanya? 

Pertama, pada TELADAN ini akan diberikan pelatihan kepemimpinan yang jauh lebih komprehensif daripada NCS.  

Kedua, sasaran program TELADAN adalah mahasiswa/i program sarjana S1 semester 1 dari perguruan tinggi mitra Tanoto Foundation yang memiliki kemampuan, prestasi, dan potensi menjadi pemimpin yang cakap, unggul dan bertanggung jawab. Sementara dulu NCS bisa untuk semester 2 hingga 6.

Lebih enak mana nih? Ya TELADAN lah, tapi seleksinya juga makin ketat yah. Sepertinya buka pada bulan September tiap tahunnya. 

Berikut syarat umum pelamar beasiswa TELADAN ini  :

  • Warga Negara Indonesian (WNI)
  • Terdaftar sebagai mahasiswa/i semester I untuk program Sarjana (S1) di perguruan tinggi mitra berikut:

1. Institut Pertanian Bogor
2. Institut Teknologi Bandung
3. Universitas Indonesia
4. Univesitas Sumatera Utara
5. Universitas Gadjah Mada
6. Universitas Riau
7. Universitas Andalas
8. Universitas Brawijaya
9. Universitas Diponegoro

  • Memiliki prestasi akademik yang baik di tingkat SMA dengan nilai rata-rata raport kelas 12 (semester 1 & 2) adalah 8,00 (dalam skala 10)
  • Menunjukkan potensi kepemimpinan yang kuat serta berkomitmen untuk berkontribusi pada masyarakat dan pengembangan bangsa
  • Dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik. Kemampuan berbahasa Inggris akan menjadi nilai tambah bagi kandidat
  • Mendaftarkan diri secara online pada website Tanoto Foundation

Oke sudah ya nyeritain tentang beasiswanya. Nah, sekarang saya ingin cerita salah satu manfaat yang didapatkan ketika menjadi Tanoto Scholar. Saya berkesempatan terbang bersama teman-teman penerima se-Undip untuk hadir dalam pertemuan nasional. Isinya have fun banget, ketemu sama pembalap terkenal Rio Haryanto juga karena ada sesi talkshow gitu. Plus outbond yang menyenangkan. Dan tentunya bisa kenal dengan teman-teman se-Indonesia.

Ohya, kita juga company visit ke perusahan RGE loh.


Rombongan diajak menuju Kerinci Central Nursery (KCN) tempat pembibitan dan pertumbuhan akasia muda. Di sana, rombongan dipandu untuk melihat langsung bagaimana cara pembibitan, pertumbuhan dan perkembangan akasia hingga siap untuk dikirim ke lapangan menuju proses penanaman.

Wajah senang kerena pertama kali bisa tahu kekayaan alam Indonesia yaitu kelapa sawit yang dapat menjadi energi eco-friendly.


 
Di RAPP yang bertanya dapat hadiah, yaitu meminum minyak goreng. Tenang...aman kok

Terima kasih Tanoto Foundation yang sudah memberikan kesempatan saya untuk bergabung dalam Tanoto Scholars Gathering 2017 di Pangkalan Kerinci, Riau. Awesome! It was my first experience going out of Java. 

Selasa, 19 Juni 2018

Sebuah Pilihan : Psikolog Klinis Dewasa atau Anak

Ini bukan karena aku udah keterima, tapi karena aku baru mau masuk kuliah S2.

Nah, di Unpad & UI ada dua pilihan jurusan untuk bidang klinis yaitu Dewasa & Anak. Aku akan milih Dewasa. Kenapa? Karena aku suka dengan dunia personality development yang baru bisa diidentifikasi saat remaja dan dewasa. Kemudian, karena di Undip membawa nafas Psikologi Keluarga, aku jadi suka membahas psikologi dalam konteks keluarga. Dan keberhasilan suatu keluarga sangat ditentukan oleh orang dewasa di dalamnya. That's why I choose Adoloscence Psychology for my master.

Nah ini kalau kuliah S2 di Indonesia. Kalau luar negeri? Next Post

Rabu, 13 Juni 2018

Cerita Martabak

Adanya adek di rumah tidak hanya membuat rumah ramai, tapi juga pengeluaran agak melebih batas. Dia ini suka sekali jajan di luar, padahal di rumah juga udah makan banyak. Entah karena dia itu nggak pernah makan enak atau kebiasaan makan enak, semua makanan enak yang dipengenin musti diturutin. Salah satunya martabak manis. Favoritnya adalah rasa keju dan kacang. Sama sih kesukaannya kayak aku, tapi Bapak nggak suka kacang.

Nah, malam ini aku diminta Ibu untuk bayar angsuran via ATM, lalu adekku nitip dibelikan martabak kesukaanya. Ibu pun menyahut, "beli yang murah, belinya di depan rumah X itu ngelewatin sungai lurus aja menghadap barat, disitu cuman 11 ribu.Jangan beli yang 30 ribu. Kemahalan. Hematlah.."

Saat aku mengikuti arahan Ibu, ternyata tidak menemukan penjual martabak. Jadi aku beli di tempat lain. Aku cek harga keju dan kacang ternyata cuman 25 ribu. Bukan 30 ribu kan ya.

Sampai rumah aku ditanya Ibu terkait harga. Ibu udah mau ambil martabaknya tapi nggak jadi gara-gara aku bilang harganya 25 ribu. "Ya Allah cuman beli martabak aja mahal, kalau yang murah nggak buka, mending nggak usah beli. Buat apa memenuhi keinginan perut. Hematlah.."

Lalu aku terdiam.

Sebegitu ndak hematnya kah adekku? Sepertinya dia udah beli martabak seharga gitu beberapa kali sampai bikin ibu menyuruh hemat.

Dipikir-pikir iya begitu. Tapi ya namanya snack, kayak emang lagi pengennya itu ya mau gimana gitu. Tapi mungkin alangkah baiknya juga adek bisa menahan diri.

Dari kejadian ini membuatku ingin segera menghasilkan uang biar bisa membelikan martabak tanpa disuruh hemat. Hahaha

Selasa, 12 Juni 2018

Usia 21 Tahun Sudah Sarjana

Seperti biasa, setiap postingan diawali dengan 'Hai'.

Jadi kali ini akan bercerita tentang hari lahirku. Alhamdulillahirobbil 'alamiin. Bisa sehat wal'afiat pada usia 22 tahun.

Perjalanan menuju Juni ini perlu diapresiasi sendiri. Mungkin sekalian berdoa untuk diri sendiri ya.

Selamat ya Ros udah bertahan dan kuat menahan emosi. Semoga semakin dewasa dalam berpikir dan memiliki spiritualitas yang baik. Ingat Allah dimanapun. Ingat selalu untuk selalu punya niat yang baik karena Allah. Sayangi orang tua, beri waktu dan kasih sayangmu ros. Insya Allah, Allah bakal ngasih apa yang dibutuhkan. Apapun...Jangan khawatir.
Dan yang bikin bahagia bukan tanggal 12 Juni, tapi tanggal 6 Juni. Alhamdulillah sudah yudisium. Artinya, saat aku belum sah berusia 22 tahun, aku udah sah menyandang gelar S.Psi. Kenapa harus bangga? Hahaha. Karena mungkin pernah ngeliat di timeline IG, "alhamdulillah bisa selesai kuliah di usia 21 tahun". Lah kamu ros? Kan kamu 21 tahun mau jadi 22 tahun selisih 6 hari doang wkwk. Sudahlah ini tidak penting. Yang penting adalah sehat. Jadi inget masa-masa perjuangan, rasa cemas bercampur aduk kala itu.

Alhamdulillah diizinkan sidang pada tanggal 29 Maret, lalu revisi selama sebulan April penuh. Kemudian seharusnya bisa yudisium pada bulan Mei, tapi ternyata ndak buka yudisium. Kenapa? Karena yang daftar cuman 1 itu pun udah nggak minggu pertama, biasanya yudisium itu awal bulan, saat itu banyak persyaratan yudisium yang belum dipenuhi , salah satunya adalah jurnal. Untuk ACC membutuhkan waktu revisi dari dosen pembimbing.

Daftar sidang Maret sebenarnya berharap bisa ngejar wisuda Mei, tapi revisian musti beres di awal bulan April biar bisa yudisium dan bisa daftar wisuda Mei. Sementara bulan April adalah bulan akreditasi, kampusku sangat sibuk yang tak bisa digambarkan melalui kata-kata.

Ada lagi yang bikin bersyukur banget, berkat kerja keras civitas akademika, per wisuda Agustus besok kami mendapatkan kelulusan di ijazah dengan akreditasi A. Inilah yang menjadi hikmah kenapa aku baru wisuda bulan Agustus, ternyata biar dapat akreditasi baru. Heheh

Kalau diingat-ingat lagi, dulu kan sempat kuliah di Universitas Negeri Malang (UM) dengan jurusan psikologi juga, tapi masih akreditasi C. Kemudian selang 2 minggu setelah kuliah, dapat kabar kalau aku keterima Undip. Sebenarnya aku juga eman dengan UKT yang udah dibayarkan di UM, tapi ternyata UKT di Undip pun sama persis jumlahnya, jadi mikirku ngga rugi-rugi amat. Selain itu pertimbangan mengenai akreditasi, Psikologi Undip saat itu masih B per tahun 2013 kalau ndak salah. Kemudian aku memproyeksikan kalau Psikologi Undip 5 tahun lagi setelah itu kemungkinan bisa dapat A.

Sempat menargetkan lulus atau sidang di bulan Januari, tapi ternyata ada aja tantangan buat ngerjain skripsi, jadi belum selesai.

Beberapa bilang, "kok cepet sih lulusnya". Sebenarnya ingin menjawab gini, "ini aja udah molor dari yang aku targetkan yaitu Januari". Tapi ngga boleh jawab kayak gitu, semua ini datangnya dari Allah. Gitu jawabnya.

Aku pernah bilang ke teman kalau rencana lulusku memang Januari, kalau lebih dari itu berarti ada sesuatu. Kalau digambarkan mungkin gini, semester 6 aku udah ambil mata kuliah Seminar Proposal. Nggak cuman aku ya, semua angkatan 2014 memang diproyeksikan bisa lulus 3,5 tahun karena semester 7 udah nggak ada mata kuliah wajib yang harus diambil. Sebenarnya aku juga nggak ngebet 3,5 tahun banget sih, waktu itu mikirnya, masa ada kesempatan 3,5 tahun ngga diambil, gak boleh loh menyia-nyiakan kesempatan. Seperti Safira, anak ITS, dia mengatakan kalau dia susah banget buat lulus 3,5 tahun dan dia memutuskan untuk lulus 4 tahun. Well, apakah mungkin ini penyebab kenapa aku ngga bisa lulus 3,5 tahun karena nggak terlalu yakin buat bisa. Tapi ndak juga sih, aku udah ngerencanain bimbingan dan step-step agar lulus, tapi mungkin aku baru bener-bener semangat, berkonsentrasi dan fokus ngerjain skripsi itu bulan Desember. Kalau nggak salah selama bulan November aku berhenti karena masa-masa transisi habis dari Riau. Apaan sih nggak nyambung. Terimakasih buat Dira yang udah mau bareng-bareng dan akhirnya bisa lulus bareng.

Selasa, 05 Juni 2018

Tersedih di Dunia Selama Ramadhan, Tidak Ikut Khataman

Hari ini tanggal 5 Juni 2018.

Sedari kemarin sudah diingatkan Okta (koordinator FIM Semarang) buat hadir pagi-pagi banget di kantor PGN. Ada acara buka bersama dengan anak yatim se-Kota Semarang.

Malamnya, aku bingung menentukan agenda mana yang aku pilih.

1. Bukber FIM, dimana aku jadi panitia sebagai pendamping 3 yayasan panti asuhan.
2. Bukber Pilar PKBI, dimana aku jadi relawan.
3. Acara Training of Trainer Hypnosis bersama Pak Hans.

Pada akhirnya aku izin acara nomor 3. Dan memprioritaskan acara nomor 1, karena aku benar-benar dibutuhkan dimana personelnya sedikit sekali. Kemudian acara 2 tetap aku usahakan.

Pada kenyataannya, acara nomor 2 tak bisa kususul. Sedih. Karena momen bersama relawan itu bermanfaat banget menurutku.

Setelah itu, aku menyempatkan hingga selesai evaluasi acara pada pukul 21.00 dan sampai rumah jam 21.30. Jauh. Jalan pemuda ke daerah Tembalang. Uniknya, aku ngeboncengin adik kelas yang berangkatnya pakai helm.

Sampai di rumah, aku membersihkan wajahku yang kotor. Leyeh-leyeh. Dan kemudian cek stories instagram. Dan ngeliat stories salah satu temen kos sedang update tentang khataman adek-adek TPQ di masjid terdekat. Masjid yang biasanya jadi tempat langganan jama'ah para penghuni kosan.

Ngeliat stories itu membuatku mencetuskan "hari tersedih di dunia".

Khataman adalah event tahunan. Tahun lalu aku gabisa hadir karena KKN. Dan ternyata di tahun terakhir di Semarang malah aku ngga datang.

Dan alasannya sepele, karena aku nggak tau informasi kalau khatamannya hari ini. Aku kira besok alias Rabu. Kebetulan besok Rabu akan ada Sabyan, trus kemarin aku ngajak anak kos buat datang ke Sabyan. Dan anak kosnya jawab, "loh malamnya kan ada khataman". Jadi aku menyimpulkan khatamannya tuh hari rabu. 

Dan sekarang rasanya tuh sakit banget. Sakit karena mikir ini bisa jadi adalah Ramadhan terakhir di Semarang. Huhuhu

Aku pas tau update an stories temanku tadi langsung bergegas ke masjid. Eh ternyata rombongan teman kos sudah di depan kos. Padahal aku udah lari, bahkan sampai foto diatas lemari sampai jatuh ke lantai gara-gara aku buru-buru banget buat ngaca.
Foto ini diambil oleh salah satu penghuni kos/rumah. Foto ini sekaligus jadi  kenang-kenangan sebelum masjidnya selesai direnovasi. Tersedih di Dunia Selama Ramadhan.

"Loh kan udah aku ingatkan di grup line, aku udah mention kalian (aku & isqina)."

Setelah itu aku naik ke kamar nulis kejadian ini supaya plong.

Line-ku pun aku ubah statusnya jadi OFF dan tanpa foto. Aku ndak ingin lagi aktif line sebenarnya karena di handphone Line itu udah lemot pas nge-loadnya. Plus, nggak muncul notifnya. Iya, OPPO NEO 7 emang gitu. Inayah, temanku, punya hape sama denganku juga mengeluhkan hal ini.


Sekarang meneteslah air mataku. Yang perlu diterima adalah memang aku tidak ditakdirkan untuk datang Khataman. Alhamdulillah diselamatkan selama perjalanan pulang jadi panitia, walau temanku ndak pakai helm. Hehehe

Senin, 04 Juni 2018

Kenapa Menyendiri itu Perlu Dilakukan?

Baru saja bulan lalu aku kalap membeli buku yang agak mahal. Pengen punya buat koleksi atau biar bisa dipinjem orang lain.

"Orang sukses telah mengembangkan kebiasaan melakukan hal-hal yang tidak suka dilakukan orang gagal. Mereka pun tidak suka melakukannya. Namun, rasa tidak suka mereka dianggap kurang penting dibandingkan kelebihan dari tujuan mereka." (Albert E.N Gray)

Quotes itu menjadi pembuka dari topik kali ini yang berjudul, "Cara Pikir Lambat VS Cara Pikir Cepat".

Pertanyaan yang muncul paling umum adalah "lah emang pikiran secara lambat itu penting dimiliki, bukannya malah akan disebut sebagai seseorang yang sok?"

Brian Tracy dalam bukunya yang berjudul Get Smart, dikatakan :

Salah satu cara yang paling efektif untuk bisa berpikir lambat adalah meluangkan waktu untuk menyendiri secara teratur. Banyak orang tidak pernah menyepi bahkan sekali saja seumur hidupnya. Mereka fokus dengan kebutuhan-kebutuhan yang banyak dan tak terpuaskan, sehingga selalu sibuk dan aktif.

Menyepi sebenarnya mudah saja. Tindakan ini mengharuskan kita meluangkan waktu minimal 30 menut sampai 60 menut untuk sendirian, dalam keheningan, tanpa musik atau gangguan, dan hanya duduk diam dengan tenang di alam terbuka, di sebuah teman, tempat yang hening.

Brian Tracy juga menyarankan situasi mental terbaik untuk menyendiri adalah "berpikir tentang air". Duduk dan menatap air, bahkan kolam renang, tampaknya bisa membuat pikiran kita relaks dan membuka kemmapuan bawah sadar dan suprasadar kita. 

Saat kita menghadapi satu masalah, kesulitan, rintangan, frustrasi, atau tantangan dalam hidup, kita perlu berdiam diri dan duduk dengan tenang. Dan saat itu juga, masalah yang besar tadi bisa berubah menjadi kupu-kupu yang sedang hinggap di bahu kita.

Murid Brian Tracy udah mengalami manfaat setelah melakukan sesi menyepi untuk mengatasi masalah yang membuat cemas dalam berminggu-minggu atau berbulan-bulan dapat dengan cepat terpecahkan.

Membebaskan Kekuatan yang Tersembunyi

Semakin kita sering berlatih menyepi, semakin lebih cepat, lebih baik, dan lebih menyeluruh jawaban dan ide yang kita peroleh dari sesi menyepi.

Dalam sebuah prinsip perencanaan waktu sering terdapat ungkapan, "Setiap menit yang digunakan dalam perencanaan akan menghemat 10 menit dalam pelaksanaan."

Ketika kita menjadi seorang public speaker dengan audiens yang baru pertama kali kita temui sangat memungkinkan kita mengalami nervous. Tangan gemetar. Banyak a-e-a-e alias terbata-bata. Jangan sampailah ya! Apalagi kalau kita udah dibayar secara profesional.Penting sekali kita memiliki kemampuan berpikir lambat dan tenang.

Minggu, 03 Juni 2018

Ramadhan Tahun Ini


Assalamu'alaikum semua.

Hai Rosa yang mungkin akan baca tulisan ini di tahun depan.

Ramadhan kali ini diisi dengan kekosongan agenda pasti. Semua agenda yang ada adalah agenda yang tidak dipastikan. Ramadhan tahun lalu setiap hari Jumat, Sabtu & Minggu selalu berangkat KKN. Masih kuliah juga tahun lalu. Untuk jadwal masak di rumah (kos) sudah berjalan.

Namun, ada rasa yang berbeda untuk Ramadhan kali ini. Yaitu kefokusan dalam beramal pun sudah berubah. Sekarang kalau masak benar-benar dihayati supaya nanti sudah berumah tangga sudah tidak bingung lagi. Kemudian, saat beribadah juga diakhir sholat selalu menyempatkan do'a untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Iya, akhirat.

Jama'ah pun jauh lebih rajin daripada Ramadhan tahun lalu. Alhamdulillah. Mereka yang ada foto adalah orang-orang yang istiqomah jama'ah. Semoga Ujian mereka lancar semua. Aamiin. Gak nyangka Ramadhan kali ini mereka udah UAS aja. Artinya, sebentar lagi akan tiba semester ganjil. Mereka sibuk KKN di Bulan Agustus besok. Ada kalimat yang tercetus diantara kami, "Eh kita jangan terlalu dekat gini, nanti kalau kita udah pisah...pasti rasanya ada yang kurang."

"Kamu nggak sedihkah Ros, bulan depan kita udah pada KKN. Mungkin kebersamaan kita akan sangat jarang sekali."

Ya, time flies..kalian makin gede di Undip. Aku pun keluar Undip.

Dan pada Ramadhan ini aku melakukan 3 buah perjalanan,

Pertama, aku pergi ke Jogja sendirian. Sedih sih karena harus sendiri. Tapi, untungnya perjalanan ini emang perjalanan singkat. Hanya merasakan sahur dan buka sekali. Hal yang tidak menyangka adalah aku menginap di tempat Rory, lalu juga bertemu dengan Ibnu. Mereka berdua adalah anak B, beda kelas sama aku yang kelas E. Kok bisa ya aku deket sama orang yang dulu itu mungkin cuman senyum doang kalau di SMP 1 Kediri. Rory memang pernah melakukan perjalanan ke Semarang untuk kegiatan voluntering gitu. Aku udah mencoba menghubungi teman satu asrama di MAN 3 Malang dulu, eh nggak bales cobak. Yaudahlah, Rory menjadi penolongku.

Apa tujuanku ke Jogja? Mungkin aku akan kasih tau setelah ada kepastian saja.

Kedua, aku berkesempatan ikut kegiatan pesantren kilat cuman 3 hari di Jakarta. Bertempat di masjid nan megah di Jakarta Barat, yaitu KH. Hasyim Asy'ari. Alhamdulillah bisa beli tiket kereta. Dan bisa naik kereta favoritku yaitu Tawang Jaya, harganya sama seperti tahun-tahun lalu.

Ketiga, mudik. Aku sudah sangat kangen sekali dengan kemewahan dan keramahan rumah asliku. Sidoarjo! Sejak tahun baru 2018 belum sempat pulang ke rumah. Bukan karena sibuk. Selow malahan, tapi ya gitu ada aja agenda yang tidak pasti. Bimbingan lah....persiapan sidang lah.....pasca sidang musti revisi...daftar yudisium yang rumit...Wah alhamdulillah bisa tuntas menyelesaikan. Terakhir yang paling ditunggu-tunggu adalah yudisium. Berapa nilai skripsiku akan ketahuan. Ya Allah bantu aku supaya mampu menerima berapapun ketetapan-Mu ya Rabb.

Ohya Ramadhan kali ini dipenuhi pertanyaan Bukber, "Apa rencanamu setelah ini?"

Well, pertanyaan sensitif abad ini itu mah. Hahaha padahal jawabnya sederhana, "doanya ya..semoga bisa keterima S2". Dimana Ros? Doanya ya aku akan mendaftar di beberapa tempat. Tapi yang jelas, aku sangat berharap untuk bisa mendapatkan beasiswa.

Jadi Ramadhan kali ini disimpulkan, aku semakin menjadi sosok yang dewasa. Suatu kenikmatan yang besar. Hal sederhana adalah dalam mengontrol makanan yang masuk. Alhamdulillah sudah turun 4 kilo. Hehehe

Ohya tapi tetap ada tapinya, tidur setelah sahur. Wah ini gawat kalau terjadi pas zaman kuliah. Masa aku bangun dari sholat Shubuh jam 08.00, untuk belum punya pekerjaan pasti.

Target bulan-bulan ke depan, semoga bisa dapat tempat magang yang sesuai dengan aku buat ngisi waktu biar aku jadi orang bertanggung jawab.

Sekian cerita Ramadhan tahun ini.

Senin, 28 Mei 2018

Sempat Menghilang Tidak Pernah Bikin Stories, Ini Alasannya

Setelah beberapa waktu lalu pernah posting Kenapa Posting di Instagram, sekarang aku memunculkan teori yang melawan postingan itu.

Jadi ceritanya dua minggu ini sedang ada masalah. Terus ketika lihat postinganku, kok aku banyak banget waktu bersenang-senangnya ya, dan kenapa aku menunjukkan kesenangan-kesenangan pribadiku, ada loh orang-orang yang sedih dan mungkin nggak terima dengan hidupnya setelah melihat posting instagramku, dan itu aku rasain sendiri...aku nggak terima aku dengan postinganku yang lama. Seakan-akan dunia ini nggak ada beban. Kenapa harus menunjukkan dunia tanpa beban, padahal kenyataan punya beban. Maksudnya, ketika tanpa beban di posting, tapi kenapa saat dengan beban kenapa ngga diposting? Artinya itu ada dua

Postingan bahagia itu ternyata membebani aku saat memiliki masalah. Dan kebetulan aku selalu posting hal-hal yang positif. Tapi again, untuk sadar mempraktikkannya tulisan positif adalah struggle buat aku juga. Dan aku merasa ketika aku posting sedikit kebahagiaan saat ada masalah, orang akan berpikir "loh kok udah baikan aja sih, cepet banget.". Posting sedikit kebahagiaan itu misalnya ada hal yang lucu lalu aku posting stories (sebenarnya ga lucu-lucu amat, tapi ya jadinya adiksi buat berbagi hal lain yang lucu). Tapi emang aku sadari, aku ini tipe penghibur. Suka melucu. Jadi bawannya tuh nyari ide buat melucu. Nggak lucu pun tetap

Main media sosial ternyata juga memikirkan bagaimana orang lain memandang. Dan sulit konsisten memiliki pandangan yang positif. Di psikologi sosial, kejadian ketika kita memikirkan apa yang dipikirkan orang lain disebut dengan atribusi. Atribusi dibagi menjadi atribusi positif dan negatif.

Sebenarnya kalau orang-orang yang menjadi following-ku adalah bukan orang-orang sekitar (kehidupan sehari-hari), sih okay-okay aja.

Tapi, kalau buat orang sekitar...ya itu tadi.... ngerasa ada clash tersendiri, "loh bukannya lagi ada masalah, harusnya sedih dong" atau juga kayak gini "oh ternyata dia memilih aktivitas disana ya daripada aktivitas bersamaku". Ada pikiran-pikiran membandingkan dengan apa yang dipikirkan (seharusnya) individu terhadap postingan individu yang lain. Maksudnya, pikiran orang lain cenderung menuntut kita sesuai dengan pikirannya...seharusnya begini-begitu.

Mungkin tulisan ini membingungkan. Tapi dari masalah yang aku hadapi jadi belajar untuk, "simpan duka-suka cita mu ros, lebih baik gitu daripada kepikiran". 

Fix, No Instagram Post but still having Some Blogs Post..

Semarang, 25 April 2018.